Usaha Pengembangan Profesionalisme Kerja

Profesionalisme Kerja

Profesionalisme dalam bekerja harus selalu dilatih dan dibina. Ada beberapa kegiatan yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk mengembangkan sikap profesional para pekerjanya, yaitu :

  1. Menyediakan sarana dan prasarana bagi para pekerja untuk meningkatkan keahlian di bidangnya, seperti mendirikan sebuah Balai Pelatihan Kerja.
  2. Mengadakan kegiatan seminar, lokakarya dalam rangka meningkatkan kualitas kerja.
  3. Menyediakan bantuan dana kepada para pekerja yang akan melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi.
  4. Mengirim dan mengutus para pekerja pilihan untuk dapat melanjutkan pendidikannya ke luar negeri.

Tanggungjawab untuk mengembangkan sikap profesional bukan hanya dari instansi pemerintah atau perusahaan saja, tetapi juga merupakan tanggungjawab dari para pekerja itu sendiri. Tanggungjawab para pekerja dalam mengembangkan profesionalisme kerja, misalnya :

  1. Aktif mengikuti kegiatan seminar, lokakarya atau workshop yang diadakan oleh suatu instansi pemerintah atau perusahaan.
  2. Aktif membaca atau mendengarkan berita dari media pembelajaran, seperti televisi, radio, buku, koran, majalah, dan sebagainya.
  3. Aktif melakukan diskusi dengan rekan kerja mengenai bagaimana cara menigkatkan profesionalisme kerja.
  4. aktif mengikuti program pendidikan yang diadakan oleh suatu instansi pemerintah atau perusahaan.
Advertisements

Kekuatan Pengembangan Profesionalisme Kerja

Profesionalisme Kerja

Pengembangan profesionalisme kerja dapat dicapai dengan mengembangkan strength of knowledge, yaitu pengembangan profesionalisme melalui proses belajar secara berkesinambungan. Semua orang tahu bahwa kekuatan pengetahuan adalah suatu kekuatan dasar yang penting untuk dapat bekerja secara profesional. Oleh karena itu dengan semakin meningkatnya pengetahuan ktia maka semakin meningkat pula profesionalisme yang dapat kita perlihatkan. Dengan memiliki kekuatan tersebut, kita dapat memancarkan kekuatan diri dan memiliki kemampuan daya tangkap serta pemahaman mendalam menyangkut baik bidang kerja maupun pengetahuan secara global.

Kekuatan lain adalah strength of attitude, yaitu kekuatan yang dibutuhkan dalam rangka pengembangan profesionalisme melalui analisis diri dan pengembangan sikap kerja positif. Kekuatan ini dapat mendorong kita untuk selalu memperhatikan penampilan diri dalam pekerjaan sehari-hari, mempunyai sikap terbuka, terus terang dan penuh antusiasme.

Selanjutnya kita pun membutuhkan strength of action, yaitu suatu kekuatan yang dibutuhkan dalam rangka pengembangan profesionalisme kerjaa melalui sistem kerja yang lebih terpola, sesuai dengan etika yang berlaku dan memberikan hasil nyata. Hasil yang dapat dipetik dari pengembangan kekuatan ini adalah: kemampuan “melayani” orang dan “menyenangkan” orang lain

Pengembangan profesionalisme kerja selanjutanya dapat ditempuh melalui pembentukan jalinan kordinasi dan komunikasi vertikal dan horizontal secara bijaksana. Dengan demikian kita dapat mengembangkan strength of relationship.

Kekuatan lain adalah strength of trust and understanding. Kekuatan ini dapt dipergunakan dalam pengembangan profesionalisme kerja melalui pembentukan trust dan understanding secara vertikal, horizontal dan lateral, sehingga dengan demikian kita dapat memiliki kemampuan “memahami” perasaan orang lain dan memiliki perhatian mendalam terhadap lingkungan sekitar kita.

Kelima pola tersebut dapat dicapai melalui pola pengembangan sebagai berikut:

1. SELF OBERVATION & ANALYSIS
Mengidentifikasi dan menganalisis kekuatan dan kelemahan yang dimiliki dalam melaksanakan peran strategis, teknis dan pendukung.
2. SELF PREPARATION
Mempersiapkan diri secara mental dan fisik untuk memulai perubahan.
3. SELF DETERMINATION
Membentuk keyakinan diri mengenai kapasitas atau kemampuan untuk berkembang.
4. SELF LEARNING
Belajar dari pengalam diri sendiri, dan dari pengalaman orang lain atau dari role model positif yang dimiliki.
5. SELF PLANNING
Merencanakan program peningkatan profesionalisme kerja.
6. SELF ACTION
Melaksanakan program peningkatan profesionalisme kerja secara konsisten.
7. SELF MONITORING
Melakukan monitoring progress dan evaluasi perbaikan selanjutnya.

Sumber : tulungagung.go.id

Merencanakan Bisnis ׀ Pengantar Bisnis

A. Mengidentifikasi Stakeholder

5 (lima) jenis stakeholder : pemilik, kreditor, karyawan, pemasok, dan pelanggan.

1. Pemilik

Setiap bisnis dimulai sebagai hasil ide dari seseorang atau lebih mengenai barang dan jasa yang disebut wiraswasta. Pada awalnya biasanya ia menjadi pemilik tunggal. Seirirng dengan perkembangannya ia membutuhkan tambahan dana yang memungkinkan orang lain untuk berinvestasi. Banyak perusahaan besar menjual sahamnya kepada investor yang ingin menjadi pemegang saham.

2. Kreditor

Perusahaan memerlukan dana lebih dari pada yang didapat dari pemilik. Perusahaan yang memerlukan dana meminjam dari institusi keuangan atau individu yang disebut kreditor. Perusahaan akan membayar bunga, kreditor akan memberikan pinjaman jika ia yakin perusahaan berkinerja lebih baik. Continue reading