Pendidikan Agama Islam ׀ Agama dan Kebudayaan

Pengertian Agama

  • Pengertian populer : seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia ghaib, khususnya Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan mengatur manusia dengan lingkungannya.
  • Pengertian antropologis: sistem keyakinan yang melibatkan emosi dan pemikiran yang sifatnya pribadi dan diwujudkan dalam tindakan-tindakan keagamaan yang sifatnya individual, kelompok, sosial yang melibatkan sebagian atau seluruh masyarakat
  • Menurut Parsudi Suparlan (1988) : sistem keyakinan yang dianut dan tindakan-tindakan yang diwujudkan oleh suatu kelompok masyarakat dalam menginterpretasi dan memberi respon terhadap apa yang dirasakan dan diyakini sebagai gaib dan suci.

Pengertian Kebudayaan

  • Pengertian populer : kesenian atau hasil karya manusia
  • Koentjaraningrat : keseluruhan kegiatan yang meliputi, tindakan, perbuatan, tingkahlaku manusia, dan hasil karyanya yang didapat dari belajar
  • E.B. Taylor : sesuatu yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat
  • Pengertian Umum : suatu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi pedoman bagi tingkah lakunya.
  • Kebudayaan merupakan hasil karya cipta manusia dengan kekuatan jiwa (pikiran, kemauan, intuisi, imajianasi dan fakultas-fakultas ruhaniah lainnya) dan raganya yang menyatakan diri dalam pelbagai kehidupan (hidup ruhaniah) dan penghidupan (hidup lahiriah) manusia, sebagai jawaban atas segala tantangan, tuntunan dan dorongan dari intern diri manusia, menuju arah terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan (spiritual dan material) manusia, baik individu maupun masyarakat ataupun individu dan masyrakat.
  • Musyawarah antar Seniman Budayawan Islam : Manifestasi dari Ruh, Dzauk, Irodah, dan amal (Cipta, Rasa, Karsa dan Karya) dalam seluruh segi kehidupan insani sebagai fitrah, ciptaan karunia Allah SWT.

Substansi Kebudayaan

  • Sistem pengetahuan
  • Nilai-nilai
  • Pandangan hidup
  • Keyakinan (religi)
  • Persepsi
  • Etos

Hubungan Agama dan Kebudayaan

Agama (Islam) -bertemu/interaksi-> kebudayaan (lokal)-melahirkan-> akulturasi dan asimilasi -membentuk-> pemahaman dan pengalaman agama (budaya baru).

Pendapat mengenai nisbah antara agama dan kebudayaan :

  1. Pendapat pertama : Agama adalah bagian dari kebudayaan. Jadi kebudayaan mencakup agama.
  2. Pendapat kedua : Kebudayaan adalah bagian dari agama. Jadi agama mencakup kebudayaan.

Sebenarnya agama samawi dan agama kebudayaan tidak saling mencakup. Masing-masing berdiri sendiri, yang satu tidak merupakan bagian yang lain. Meskipun dalam kenyataan kehidupan dan penghidupan manusia sehari-hari, keduanya memiliki hubungan yang saling erat.

Adapun perkara bahwa sebagian unsur dari kebudayaan lantaran tidak sejalan dengan tujuan-tujuan transedental agama samawi yaitu sampainya manusia kepada kesempurnaan, bertolak belakang dengan agama atas alasan ini tidak diterima oleh agama, merupakan perkara yang jelas. Akan tetapi banyak unsur kebudayaan yang sejalan dengan program dan agenda agama. Dan adalah suatu hal yang wajar apabila mendapatkan sokongan agama. Dari sisi yang lain, banyak hal dari kebudayaan yang disuguhkan dalam tataran  nilai-nilai yang dimunculkan dari agama.

Membahas fluiditas (kelenturan) Budaya-Agama, saat Budaya ataupun Agama dianggap sebagai an sich, manusia terlahir di dunia mau tidak mau harus menerima warisan sebuah ide-ide, sistem tingkah laku, dan artefak yang sebelumnya telah ada. Berbeda dengan ketika budaya ataupun agama dimaknai sebagai proses, keduanya dipandang dalam bentuk kontinyuitas perkembangan, kebangkitan, dan keruntuhan sutau kebudayaan. Kebudayaan dan Agama sebagai proses adalah realitas yang tidak terhenti satu jejak saja. Fluiditas keduanya merupakan jejak nostalgia dari sebelumnya untuk titik tolak menuju jejak berikut yang bersifat menambahi, merubah atau bahkan meniadakan.

Nilai-nilai Dasar Islam tentang Kebudayaan

H.A.R. GIBB: “Islam is needed much more than system of theology, it is complete civilitation” (Wither Isla, p.12). Pernyataan GIBB termaktub di atas populer sekali di Indonesia berkat kerapkali dikutipndan disiarkan oleh M.NATSIR yang dahulu menerjemahkan sebagai berikut :

  1. “Islam itu sesungguhnya lebih dari satu sistem agama saja, dia itu adalah suatu kebudayaan yang lengkap”.
  2. “Islam itu sesungguhnya lebih dari satu sistem peribadatan, dia itu adalah suatu kebudayaan yang lengkap”.

Menurut pendapat Dr. H. Endang Syaefudding Al-Anshari, dalam bukunya “ Pokok-Pokok Pikiran Tentang Islam” h.23.th 1976 :

  1. “Islam itu seseungguhnya lebih dari satu sistem theologi, ia adalah satu sivilisasi yang lengkap”.
  2. Pendapat GIBB wajar karena seorang orientalis, namun tidak wajar bagi orang Islam yang “commited” terhadap agamanya.
  3. Kebudayaan Islam bukanlan Islam itu sendiri melainkan kebudayaan , yaitu “Kebudayaan karya orang Islam yang commited terhadap agamanya”.

Agama Islam sebagai Sumber Kekuatan Kebudayaan Islam

Berdasarkan kutipan M. Natsir, yang menjadi kekuatan yang membangkitkan kebudayaan adalah Agama Islam, jadi bisa dikatakan kebudayaan itu “ Kultur Islam”.

Beberapa faktor dalam agama Islam yang mendorong pemeluknya untuk menciptakan Kebudayaan Islam, diantaranya : Agama Islam menghormati akal manusia, meletakkan akal pada tempat yang terhormat, menyuruh manusia menggunakan akal untuk memeriksa dan memikirkan keadaan alam.

Firman Allah :

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (١٨٩)إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ (١٩٠)الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (١٩١)

Artinya :

“Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yakni orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” ( Q.S. Ali Imran : 189 – 191 )

Download

Download bahan mata kuliah Pendidikan Agama Islam Bab Agama dan Kebudayaan.

Sumber Referensi :

  • E-learning Gunadarma
  • Bahan Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di STIE Bank BPD Jateng yang disampaikan Bapak Nurwan.
  • Tugas Form.1 EKO SUDARMAKIYANTO (NIM.1M101535) Bab Agama dan Kebudayaan.

Pendidikan Agama Islam ׀ Agama dan Filsafat

Definisi Filsafat dan Cabangnya

Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain: Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu. Filsafat merupakan “ilmu istimewa” yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa karena masalah itu terdapat diluar atau diatas jangkauan ilmu pengetahuan biasa. Adapun cabang-cabangnya adalah sebagai berikut :

  1. Metafisika yaitu filsafat tentang hakekat yang ada dibalik fisika, tentang hakekat yang bersifat trensenden, diluar atau diatas kemampuan pengalaman manusia.
  2. Logika yaitu filsafat tentang fikiran yang benar dan salah.
  3. Etika yaitu filsafat tentang tingkah laku yang baik dan buruk.
  4. Estetika yaitu filsafat tentang karya yang indah dan yang jelek.
  5. Epistomologi, filsafat tentang ilmu pengetahuan.
  6. Filsafat-Filsafat khusus lainnya, seperti filsafat hokum, filsafat sejarah, filsafat alam, filsafat agama, dan lain sebagainya.

Definisi Agama

Agama mengandung pengertian pengaturan hubungan manusia dengan tuhannya (vertical), hhubungan manusia dengan manusia dalam masyarakat (horizontal) termasuk dengan dirinya sendir dan lingkungan hidupnya. (QS. Al-maidah, 5 :3).

Agama sebagai Objek Filsafat

Al-Kindi mengemukakan bahwa objek filsafat itu adalah fisika, matematika dan ilmu ketuhanan.Menurut al-Farabi, objek filsafat adalah semua yang maujud. Selain yang dikemukakan oleh para filosof di atas, menambahkan bahwa kepercayaan itu termasuk objek pembicaraan filsafat.

Semua sasaran pembahasan di atas merupakan mate-ri pembahasan filsafat. Agama adalah salah satu materi yang menjadi sasaran pembahasan filsafat. Dengan demi-kian, agama menjadi objek materia filsafat. Ilmu pengeta-huan juga mempunyai objek materia yaitu materi yang empiris, tetapi objek materia filsafat adalah bagian yang abstraknya. Dalam agama terdapat dua aspek yang berbeda yaitu aspek pisik dan aspek metefisik. Aspek metafisik adalah hal-hal yang berkaitan dengan yang gaib, seperti Tuhan, sifat-sifat-Nya, dan hubungan manusia dengan-Nya, sedangkan aspek pisik adalah manusia sebagai pribadi, maupun sebagai anggota masyarakat.

Filsafat agama sebenarnya bukanlah langkah untuk menyelesaikan persoalan agama secara tuntas. Pemba-hasan filsafat agama hanya bertujuan untuk mengungkap-kan argumen-argumen yang mereka kemukakan dan memberikan penilaian terhadap argumen tersebut dari segi logisnya.

Perbandingan Agama dan Filsafat

Menurut Prof. Dr. H. H. Rasyidi, perbedaan antara filsafat dan agama bukan terletak pada bidangnya, tetapi terletak pada cara menye-lidiki bidang itu sendiri. Filsafat adalah berfikir, sedang-kan agama adalah mengabdikan diri, agama banyak hu-bungan dengan hati, sedangkan filsafat banyak hubungan dengan pemikiran. Williem Temple, seperti yang dikutip Rasyidi, mengatakan bahwa filsafat menuntut pengetahuan untuk memahami, sedangkan agama menuntut pengeta-huan untuk beribadah atau mengabdi. Pokok agama bukan pengetahuan tentang Tuhan, tetapi yang penting adalah hubungan manusia dengan Tuhan.

Di sisi lain agama mulai dari keyakinan, sedangkan  filsafat mulai dari mempertanyakan sesuatu. Mahmud Subhi mengatakan bahwa agama mulai dari keyakinan yang kemudian dilanjutkan dengan mencari argumentasi untuk memperkuat keyakinan itu, (ya`taqidu summa yastadillu), sedangkan filsafat berawal dari mencari-cari argumen dan bukti-bukti  yang kuat dan kemudian  timbul-lah keyakinannya (yastadillu summa ya`taqidu).

Perbedaan lain antara agama dan filsafat adalah bah-wa agama banyak hubungannya dengan hati, sedangkan filsafat banyak hubungannya dengan pikiran yang dingin dan tenang.

Hubungan Ilmu, Agama, dan Filsafat

Filsafat mencari kebenaran dengan cara menggambarkan, mengelanakan, atau menualangkan akal budi secara radikal dan integral, dan tidak mau terikat oleh apapun kecuali “tangannya” sendiri yaitu logika. Kebenaran Ilmu Pengetahuan dan Filsafat adalah kebenaran nisbi(relatif) karena sekedar berdasarkan ra’yu atau rasio, akal budi manusia, sedangkan manusia adalah suatu “institute” atau “instansi” yang tidak sempurna.

Agama mencari kebenaran dengan berorientasi pada kitab suci, wahyu illahi yang merupakan Firman Tuhan untuk manusia diatas planet Bumi. Kebenaran Agama adalah kebenaran mutlak atau absolute dan sempurna karena agama didasarkan atas wahyu yang diturunkan oleh dzat yang Maha Besar, Maha Mutlak dan Maha Sempurna.

Pemecahan Masalah melalui Filsafat

Akal adalah potansi (luar biasa) yang dianugerahkan Allah kepada manusia, karena dengan akalnya manusia memperoleh pengetahuan tentang berbagai hal. Dengan akalnya manusia dapat membedakan mana yang benar, mana yang salah, mana yang baik mana yang buruk mana yang menyelamatkan mana yang menyesatkan, mengetahui rahasia hidup  dan kehidupan dan seterusnya.

Proses Filsafat dalam Mencapai Iman

Akal yang diberi tempat demikian tinggi di dalam agama Islam, mendorong kaum muslimin mempergunakannya untuk memahami ajaran-ajaran Islam  dengan penalaran rasional, sejauh ajaran itu menjadi wewenang akal untuk memikirkannya.

Oleh karena itu, sesungguhnya, pada hakikatnya umat Islam telah berfilsafat sejak mereka mempergunakan penalarana rasional  dalam memahami agama dan ajaran Islam. Penalaran rasional dalam memahami ajaran Islam adalah mempergunakan akal pikiran (ra’yu) untuk berijtihad

Download

Download bahan mata kuliah Pendidikan Agama Islam Bab Agama dan Filsafat.

Sumber Referensi :

  • E-learning Gunadarma
  • Bahan Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di STIE Bank BPD Jateng yang disampaikan Bapak Nurwan.
  • Tugas Form.1 EKO SUDARMAKIYANTO (NIM.1M101535) Bab Agama dan Filsafat..

Pendidikan Agama Islam ׀ Agama Islam dan Politik

Pengertian Politik Dan Politik Dalam Islam

Secara etimologi Pengertian Politik adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan yang menyangkut kepentingan dari sekelompok Masyarakat atau Negara. Menurut Prof Miriam Budiarjo, politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistim politik (negara) yang menyangkut menentukan tujuan-tujuan dari sistim itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Sehingga dapat dikatakan hakikat politik adalah perilaku manusia baik berapa aktivitas maupun sikap, yang bertujuan mempengaruhi atau mempertahankan tatanan suatu masyarakat dengan mempergunakan kekuasaan.

Di dalam Islam, kekuasaan politik kait mengait dengan al-hukm. Dalam bahasa Indonesia, perkataan al-hukm yang telah dialih-bahasakan menjadi hukum intinya adalah peraturan, undang-undang, patokan atau kaidah, dan keputusan atau vonis (pengadilan). Politik, kekuasaan dan hukum tersebut di atas sangat erat hubungannya dengan manusia. Al-Qur’an memperkenalkan konsep tentang manusia dengan menggunakan istilah-istilah antara lain insan dan basyar. Masing-masing istilah berhubungan dengan dimensi yang berbeda yang dimiliki manusia. Insan menunjuk pada hakikat manusia sebagai makhluk sosial budaya dan ekonomi yaitu makhluk yang memiliki kodrat hidup bermasyarakat dan berpotensi (berkemampuan) mengembangkan kehidupannya dengan mengolah dan memanfaatkan alam lingkungannya menurut pengetahuan yang diperolehnya. Sedangkan basyar berkenaan dengan hakikat manusia sebagai makhluk politik yakni makhluk yang diberi tanggung jawab dan kemampuan untuk mengatur kehidupannya dengan menegakkan hukum-hukum dan ajaran-ajaran agama.

Al-Qur’an yang memuat wahyu Allah, menunjukkan jalan dan harapan yakni (1) agar manusia mewujudkan kehidupan yang sesuai dengan fitrah (sifat asal atau kesucian)nya, (2) mewujudkan kebajikan atau kebaikan dengan menegakkan hukum, (3) memelihara dan memenuhi hak-hak masyarakat dan pribadi, dan pada saat yang sama memelihara diri atau membebaskan diri dari kekejian, kemunkaran dan kesewenang-wenangan. Untuk itu di perlukan sebuah sistem politik sebagai sarana dan wahana (alat untuk mencapai tujuan).

Al-Qur’an tidak menyebutkan dengan tegas bagaimana mewujudkan suatu sistem politik. Di dalam beberapa ayat, Al-Qur’an hanya menyebut bahwa kekuasaan politik hanya dijanjikan (akan diberikan) kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh.

Apa yang telah dikemukakan di atas mengandung makna kemungkinan adanya sistem politik Islami dalam sebuah negara dan dalam masyarakat non-negara. Yang terakhir ini terlihat dalam sejarah Islam sebelum hijrah. Oleh karena itu, kendatipun wujud ideal (yang dicita-citakan) sebuah sistem politik Islami adalah sebuah negara, tetapi pembicaraan tentang sistem politik Islami dapat terlepas dari konteks (bagian uraian, yang ada hubungannya dengan) kenegaraan yakni konteks kemasyarakatan yang dapat dipandang sebagai sub sistem politik.

Dalam sub sistem politik ini, hukum-hukum Allah dapat ditegakkan meskipun dalam ruang lingkup yang terbatas sesuai dengan kemampuan, sebagai persiapan pembentukan masyarakat mukmin yang siap menjalankan hukum Islam dan ajaran agama. Oleh karena kesiapan masyarakat itu dikaitkan dengan iman dan amal saleh, maka diantara langkah-langkah mendasar yang harus dilakukan adalah pembaharuan dan peningkatan iman dan penggalakkan beramal saleh. Untuk itu diperlukan kajian terhadap Al-Qur’an dan Al-Hadist, pemasyarakatan dan pembudayaan hasil-hasilkajian itu

Hubungan antara Agama dan Politik dalam Islam

Definisi Agama (Din) : “Kumpulan pengetahuan-pengetahuan yang berasal dari Allah Swt. sebagai hidayah bagi umat manusia yang di dalamnya mencakup aqidah, akhlak, dan hukum-hukum individu dan sosial. Agama bersifat utuh dan komprehensif yang tidak memisahkan antara aspek ritual, spiritual dan akhirat dengan aspek keduniaan dan materi.

Kalau kita perhatikan definisi din di atas yang mengatakan bahwa Islam adalah din yang utuh yang tidak hanya mengatur hubungan individu dengan tuhannya saja, akan tetapi seluruh aspek dari kehidupan manusia berada di bawah pengaturan Islam termasuk dalam hal ini politik, maka akan kita lihat relasi yang cukup erat antara keduanya, yaitu sebuah relasi yang tidak bisa dipisahkan.

Aturan atau hukum dalam Islam secara global diklafikasikan pada dua kelompok. Pertama, hukum-hukum yang mengatur persoalan individu, yaitu mengenai keyakinan seseorang akan hal-hal yang darurat dalam din serta tugasnya sebagai seorang mukalaf seperti sholat atau shaum, yang ini sifatnya sangat personal, walaupun dalam hal ini ketika negara memfasilitasi hal-hal yang menunjang pelaksanaan hukum di atas akan sangat berpengaruh terhadapnya. Kedua, hukum-hukum ijtima’i (sosial masyarakat) seperti politik, ekonomi, budaya, diyat, qishas, hukum pidana, boleh tidaknya bekerjasama dengan pemerintahan dzalim, membela negara, politik luar negeri… dsb.

Seluruh jenis hukum di atas pada hakikatnya ditetapkan dalam rangka mengantarkan manusia pada tujuan dari penciptaan manusia itu sendiri oleh Allah Swt. yaitu menuju kebahagiaan dan kesempurnaan baik di dunia maupun di akhirat.

Kalau kita lihat dari pembagian hukum di atas, maka politik termasuk salah satu di dalamnya, dalam hal ini menjadi bagian dari hukum ijtima’i. Karena ia merupakan salah satu sisi dari kehidupan manusia, maka politik dalam Islam adalah politik yang tidak keluar dari nilai-nilai dan aturan main Islam, sehingga politik bisa menjadi media atau alat untuk mengantarkan manusia kepada tujuan dari penciptaannya.

Dalam Islam, siyasah (politik) tidak bisa dipisahkan dari din (agama), dan agama tidak bisa dipisahkan dari politik.Ketika politik dipisahkan dari din maka jadilah ia politik setan (siyasah syaitonah), politik yang tidak mengindahkan nilai-nilai kebenaran dan politik yang ditujukan bukan untuk kemaslahatan umat manusia. Sebaliknya ketika din dipisahkan dari siyasah (politik), maka lahirlah din yang tampil secara feminim serta sangat terbatas dan hanya akan ada di masjid-masjid dan mushola serta di tempat berkontemplasinya para sufi saja.

Kontribusi Agama Islam dalam Kehidupan Politik Berbangsa dan Bernegara

  1. Politik ialah: Kemahiran
  2. Menghimpun kekuatan
  3. Meningkatkan kwantitas dan kwalitas kekuatan
  4. Mengawasi kekuatan dan
  5. Menggunakan kekuatan, untukmencapai tujuan kekuasaan tertentu didalamnegara atau institut lainnya.

Politik Erat Kaitannya Dengan Negara

Negara adalah organisasi territorial suatu (beberapa) bangsa yang mempunyai kedaulatan. Negara adalah institut (institution) suatu atau (beberapa) bangsa yang berdiam dalam suatu daerah teritorial tertetu dengan fungsi menyelenggarakan kesejahteraan bersama, baik material maupun spritual.

Negara adalah organisasi bangsa. Organisasi adalah organ (badan atau alat) untuk mencapai tujuan. Jadi Negara itu bukanlah tujuan, apabila bagi setiap muslim. Bagi setiap muslim Negara itu alat untuk merealisasikan fungsi khilafah (fungsi kekhalifahan) dan tugas ibadah (dalam arti seluas-luasnya) kepada Allah swt. Dalam rangka mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat dibawah lindungan Allah swt. Karena Islam adalah suatu sistim hidup, satu sistim tata keyakinan dan tata ketentuan yang mengatur segala kehidupan dan penghidupan manusia didalam pelbagai hubungan, maka agama tidak dapat dipisahkan dari negara, negara tidak dapat dilepaskan dari agama. Karena itu “sekularisme dalam politik kenegaraan” tidak sesuai dengan fithrah Islam sebagai kebulatan ajaran.

Didalam rangka memanfaatkan Negara sebagai media amanat Khilafah dan sebagai alat pengabdian Icepada Allah swt., maka disini dapat kita mengambil kesimpulan a.l.:

  1. Politik adalah satu aspek penting, bukan satu-satunya aspek terpenting, dalam perjuangan umat Islam
  2. Berjuang tidak identik dengan berpolitik.
  3. Berpolitik tidak identik dengan berpolitik praktis.
  4. Politik bukan sentral perjuangan Umat Islam.
  5. Partai politik Islam bukan Panglima Perjuangan Umat Islam.

Download

Download bahan mata kuliah Pendidikan Agama Islam Bab Agama Islam dan Politik.

Sumber Referensi :

  • E-learning Gunadarma
  • Bahan Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di STIE Bank BPD Jateng yang disampaikan Bapak Nurwan.
  • Tugas Form.1 EKO SUDARMAKIYANTO (NIM.1M101535) Bab Agama Islam dan Politik.