Pendakian Masal Mapala Argawana 2012 ke Merbabu

Pendakian Massal Gunung Merbabu Bersama Mapala Argawana STIE Bank BPD Jateng, Sepi dalam Ramai, Lain Dahulu Lain Sekarang

Pendakian Massal Mapala Argawana STIE Bank BPD Jateng

Stiker Penmas design by Eko Sudarmakiyanto

Boyolali, 06 – 08 April 2012, Saya ikut bergabung dalam acara pendakian masal Mapala Argawana STIE Bank BPD Jateng. Pada tulisan kali ini saya tidak akan membuat catper, karena sudah saya ceritakan  di tulisan sebelumnya Kali Pertama Menginjakkan Kaki di Puncak Merbabu, Saat Matahari Terbenam, Dingin yang Panas Bersama Mapala Argawana STIE Bank BPD Jateng. Pada tulisan kali ini hanya sekedar membandingkan saja antara dahulu dengan sekarang. Sedikit torehan pelajaran yang diperoleh melalui terjemahan persepsi (baca: hikmah), serta beberapa ungkapan hati, hehe.
Kesan Pertama yang Paling Berkesan
Berawal dari mood yang sudah buruk, kondisi fisik yang kurang sehat, banyak pikiran negatif yang bersarang di kepala. Yang paling dominan adalah “mood”, hingga sebelum berangkat iseng-iseng membuat sebuah status di facebook :
status

Itulah gambaran firasat sebelum berangkat menuju Merbabu. Benar, kata para pakar pemasaran, “Kesan pertama yang paling berkesan/bermakna”. Dalam konteks pendakian Gunung Merbabu, mungkin teman-teman juga menyepakati pernyataan tersebut dengan persepsi saat pertama melakukan pendakian, ada rasa penasaran terhadap puncak atau pun trek, berbeda pada pendakian kedua, ketiga, dst, rasa penasaran tersebut berangsur-angsur hilang. Sehingga kesannya pun berbeda dengan saat awal menginjakkan kaki di puncak Merbabu. Itulah yang tersurat pada pendakian, tetapi yang saya maksud adalah yang tersirat. Sebuah dimensi yang dibatasi kata “rasa” dengan konfiks pe-an. Sesuatu yang tak dapat diukur secara kuantitatif, yang tidak dapat dilihat, diraba, bahkan diterawang.

Jika boleh jujur, pendakian kali ini saya merasa setengah hati, kata bad mood sejak awak keberangkatan, mungkin dapat menggambarkan semuanya. Pendakian pertama yang paling mengena di memori, dan kata “semangat” selalu mengiringi perjalanan, berbeda dengan pendakian kali ini. Saya aku saya lebih nyaman dengan diam tanpa kata. Namun, saya tahu itu bisa menjadi ranjau bagi saya sendiri, maka saya terus berusaha meminimalisir dengan meluruskan niat. Kali saya niat ingin dekat dengan Sang  Penciptaan melalui salah satu ciptaan-Nya, yaitu suasana alam bebas di Gunung Merbabu, mamhami dan mencari ilmu yang tersirat darinya.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran 3:190-191)

Insya Allah.

Muhasabah Lagi

Saya masih ingat ketika kali pertama melakukan pendakian, kemudian dalam sebuah komunitas jejaringan sosial sempat diskusi hingga ditanya, ” Apa tujuanmu mendaki gunung?” Langsung saja saya jawab. ” Main, refreshing, ngilangin stress, mencari ketenangan dari hiruk pikuknya suasana kota.” Kemudian saya kok disalahkan, katanya, ” Menyatu dengan alam, coba belajar lagi”.

Beberapa kali mendaki gunung, sejumlah itu pula mengagumi karya agung Sang Maha Pencipta. Saat itu baru sadar, bahwa itu diciptakan bukan tanpa maksud.

Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. Ar Ra’d 13 : 3)

Kita bisa ambil kata kuncinya yaitu “tanda kebesaran” dan “memikirkan”. Sulit rasanya kita mengetahui kebesaran Allah tanpa adanya proses berpikir. Pernah tidak kita berpikir, kenapa gunung harus diciptakan? Ternyata gunung itu berperan sebagai pasak, dalam Quran pun disebutkan begitu, sehingga bumi ini tidak bergoncang. Betapa indah tiap lekukan dan panorama di Gunung Merbabu, apalagi ketika mencapai Sabana II ke atas. Dalam hati mengagumi karya Agung Sang Maha Pencipta benar-benar desain yang cantik dan terukur. Tiap kali melihatnya, berpikir dan merenung, hal itu membuat rasa “syukur” pada Sang Pencipta terus meningkat. Saat itu saya membayangkan suasanya yang begitu indah dan luar biasa. Subhanallah.

Berbeda dengan salah seorang teman saya, dia justeru malah membayang isi salah satu ayat surat dalam Quran

dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (QS. Al Qaari’ah 101 : 5 )

Seketika itu bayangan rasa bahagia akan keindahan alam ini berubah menjadi rasa “takut”. Betapa tidak, Gunung Merapi yang hanya mengeluarkan sedikit kandungannya saja sudah luar biasa dasyatmya, bagaimana jika segitu besarnya dihambur-hamburkan seperti bulu. astaghfirullahaladziim.

Pelajaran dalam Analogi Merbabu

Setiap kali ingat merbabu setiap itu pula benak ini langsung menuju bukit-bukit penyesalan dan tanjakan frustasi yang tak jarang memancing lelah, keluh kesah, dan putus asa. Begitu juga dalam hidup ini, tak lepas dari yang namanya masalah, tanpa sadari sering membuat kita berkeluh kesah hingga hampir putus asa menghadapi beban hidup ini (hiperbola).

Saat ini saya masih sebagai mahasiswa, jadi konteksnya adalah kuliah menuntut ilmu untuk menggapai cita-cita. Kita ibaratkan puncak Gunung Merbabu adalah cita-cita dan tujuan kita. Meski ada yang mengatakan puncak adalah bonus, tetapi menurut saya puncak adalah tujuan.

Untuk menggapai puncak kita butuh persiapan, bekal dan mental yang kuat, dan satu lagi teman yang mampu memberikan dukungan positif. Seperti masa kuliah juga sama, kita harus melakukan perencanaan, kita butuh ilmu sebagai bekal softskillsebaga dukungan mental yang membuat kita yakin dengan diri sendiri. Mental yang kuat ini, juga gampang-gampang susah, karena terkadang berbeda penyesuaian dengan lingkungan. Idealnya kita punya prinsip, menjadi katak yang tuli, terlepas dari berbagai kekurangan, yang jelas kita punya tujuan, apapun yang dikatakan orang, apapun pandangan orang terhadap kekurangan kita, berpikir saja positif.

Kita tahu pada pendakian merbabu, jalur pertama masih lumayan landai, teduh dengan pepohonan besar yang menaungi. Pada tahap ini langkah kaki masih ringan, apalagi udara masih segar tekanan udara masih normal. Pada jalur selanjutnya kadang kita temui jalan setapak, berbatu, licin, lubang, bahkan ada pohon tumbang yang melintang di tengah jalur. Semakin ke atas kita jumpai lereng yang semakin terjal, jalan dengan jurang curam di kanan kirinya. Semakin menambah ketinggian, tekanan udara semakin tinggi, kadang membuat dada sesak dan sulit bernafas. Angin semakin kencang, suhu semakin rendah, membuat pori terbuka dan rasa dingin menyelimuti. Belum lagi perasaan was was adanya bianatang buas yang mungkin tiba-tiba bisa muncul.

Diperlukan kekuatan dan keberanian untuk menghadapi berbagai halangan , kesabaranmelewati segala tantangan, dan keikhlasan dalam setiap bentuk rintangan iotu semua. Tersandung, terkilir, dan jatuh itu sudah biasa dalam setiap pendakian. Ada teman yang drop, mengeluh, hampir putus asa, atau bahkan itu adalah kita sendiri itu juga sudah umum. Di sinilah kita butuh teman yang selalu menemani kita, memberikan dukungan positif, mau dan mampu bekerja sama dalam perjalanan menuju puncak. Teman yang sabar dan ikhlas menuntun kita dalam perjalanan manuju puncak, apapun yang terjadi. Kadang juga ada orang tua yang memberikan peringatan akan suatu larangan, nasehat untuk dilakukan, dan pengalaman mereka yang lebih dahulu melewati jalur. Itu pun harus kita dengar, saat itu kita tidak tahu kebenarannya, tetapi kita akan sadar ketika mengalami sendiri. Langkah demi langkah dengan meyeret dengan ditemani lelah dan keringat, detik-detik menuju puncak merupakan hal yang paling istimewa. Ketika benar-benar menggampai puncak, itu adalah suatu kebanggaan setelah melalui berbagai perjuangan yang begitu berat. Lelah dan keluh kesah, seketika itu terobati, rasa haru dan bahagialah yang menyelimuti perasaan. Apalagi jika beruntung, mendapat bonus pemandangan Merapi, Lawu, Sindoro, Sumbing, gumpalan awan yang mengitari gunung, seolah kita berdiri jauh di atas awan. ditambah lagi jika waktunya tepat di waktu matahari terbit atau terbenam, itulah buah dari perjuangan.

Kalau saya bayangkan, sama seperti kuliah, kadang kita merasa berat, harus berpikir terus menerus, lelah, beban tugas yang menumpuk, program kerja di organisasi yang terus menanti, amanah yang harus di pegang teguh dengan penuh tanggungjawab. Kadang kita merasa seolah waktu itu kurang. Begitulah pendakian menuju cita-cita, sesulit apapun mau tidak mau, suka tidak suka, semua itu harus dan bakal kita lalui. Jatuh sakit kadang dialami, gagal dalam ujian juga biasa, dosen yang tidak kita sukai cara mengajarnya, teman yang kurang cocok secara pemikiran dan kebiasaan. Semua itu adalah tantangan. Maka dari itu kita harus terus memupuk keberanian, kekuatan, kesabaran, keikhlasan dan be positif thingking to Allah. Ini dia ayat yang sering mengingatkanku, seringnya saya membuat kode 2:216

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah 2 : 216 )

Kita harus berperang dengan hawa nafsu kita, berperang dengan rasa “malas”. Malas itu berkaitan dengan nikmat Allah yang menyesatkan yaitu Kesehatan dan Waktu. Ketika tidak dapat dikelola dengan baik, maka akan timbul penyesalan.

Mungkin mata kuliah yang sulit dipahami, yang tidak sesuai dengan bidang kerja yang kita inginkan, justeru akan berguna pada saat memperoleh karir. Ketika kita memiliki cita-cita menjadi Akuntan handal yang mampu menyelesaikan masalah perhitungan yang rumit, harus ada mata kuliah PAI, IAD, ISBD, KWn, Perilaku Organisasi,dll. Tentu kita tidak suka itu, akuntan kan hanya menghitung dengn bukti, bergelut dengan angka dalam ruangan tanpa gangguan, tetapi mana kita tahu kan, ternyata suatu saat nanti kita malah menjadi Entrepreneur, dan saat itu kita sadar yang tidak kita sukai berguna juga dan digunakan pada waktunya.

Jadi, jalani dengan ikhlas dan sabar proses kuliah ini, proses yang baik akan memperoleh hasil yang baik pula. Perkara hasil tidak seusai dengan yang kita inginkan ingat lagi 2216. Mungkin saja Allah memiliki rencana lain yang lebih baik untuk kita. Sebagai makhluk sosial, kita tidak mungkin hidup sendiri, kita butuh teman yang sepemikiran bisa saling memberikan kita semangat belajar, belajar, belajar dan bermain serta bercanda.

Disamping itu kita juga harus mendengarkan petuah dari orang tua, orang yang telah tahu lebuh dahulu memiliki banyak pengalaman. Merekan telah mengalami, sehingga harus memperhatikan petuahnya baik itu anjuran maupun larangan. Pernah dengar kan kata orang bijak, ” Kita tidak punya cukup umur untuk melakukan semua kesalahan, sehingga kita harus belajar dari kesalahan orang lain “.

Satu hal hampir dilupakan adalah “CINTA”, inilah energi yang berisi kekuatan sekaligus keikhlasan yang merujuk pada bahagia. Pernah dengar kan orang yang telah dimabuk cinta, apapun dilakukannya bahkan harus mengorbankan jiwa dan raga sekalipun. Namun, di sini kita harus punya pegangan, cinta macam apa itu. Pernah dengar juga kan kalau ingin mendekati anaknya dekati saja ibunya. kalau ingin cinta mintalah pada Yang Maha Penyayang, Maha  Pengasih, dan Maha Mencintai. Jika kita melakukan segala sesuatu karena cinta pada-Nya, Insya Allah Dia Yang Maha Pengasih akan kasih kita hal yang kita cintai (bisa juga seseorang yang kita cintai). Ingat lagunya Gigi yang judulnya Tuhan? ada kalimat. ” Aku dekat Engkau dekat, Aku jauh Engkau jauh”. Jadi terus dekat dengannya agar kita didekatkan pada cita dan cinta kita.
Ketika wisuda nanti Inysa Allah seperti di puncak Gunung, betapa bangganya kita bukan karena lulusnya itu tetapi karena kita mampu melewati proses perjuangan menuju wisuda dan memperoleh pekerjaan yang luar biasa. Hmmm, kalau begitu ada benarnya juga kalaupuncak adalah bonus donk. Bayangkan ketika saat wisuda nanti kita dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi kita, tangis bercampur senyum haru nan bahagia menyelimuti kita saat itu.

Curahan Perasaan

Tak bijak rasanya untuk saat ini saya mengungkapkannya, karena saya yakin subyektifitas perasaam mampu membuat ALAY tulisan ini. Intinya Lain Dahulu Lain Sekarang, Kadang Sesuatu yang Terjadi Tidak Sesuai dengan yang Kita Inginkan.

Satu lagi, tentang edelweiss. Biasanya edelweiss memberikan semangat untuk saya, kala lelah memberikan kekuatan, kalan mengeluh memberikan kesabaran. Kini tak lagi mampu memberikan semangat. Atau mungkin banyak orang yang menginginkannya juga kali ya. Menjadi incaran semua pendaki (baca : pencuri hati). Hmm, nampaknya ada yang tidak kita sadari, yaitu bunga berwarna kuning seperti di gambar, saya tidak tahu namanya, tetapi secara tidak langsung cukup mengobati rasa bad mood, bunga itu ketika sudah tua, akan mekar berwarna puith begitu rapuhnya ditiup langsung terbang bertaburan, cukup menghibur juga.

Note : Jangan pernah meremehkan hal sekecil apapun, termasuk meremehkan seseorang, karena kita tidak tahu kehendak Allah. Di gunung segala kemungkinan bisa terjadi.

” Lakukan Sekarang, Ikhlas karena Allah, Yakin Bisa…!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s