Transformasi Duo Fung

Berawal dari ancaman sang ibu, dua kakak-beradik ini sukses menjadikan perusahaan tak sekadar makelar dagang. Mereka kini menjadi penentu rantai pasokan bisnis global.

Awal 2006 tampaknya menjadi momen yang tak akan dilupakan kakak-beradik Victor Fung dan William Fung. Maklum, keduanya oleh Forbes dinobatkan sebagai Asia Businessmen of the Year 2006. Sebuah pengakuan prestisius atas kinerja mereka sebagai pebisnis kelas dunia.

Tentu saja Forbes tak asal memilih. Victor dan William telah menggerakkan Li & Fung menjadi perusahaan yang disegani. Bayangkan. Sejak 1992, pertumbuhan penjualannya mencapai 22% per tahun, sementara laba bersihnya tumbuh 23% per tahun. Pertengahan 2005, dengan penjualan mencapai US$ 3 miliar, perusahaan ini mencetak laba bersih sebesar US$ 79 juta.

“Kini, kami menjadi contoh perusahaan generasi baru, perusahaan yang datang dari Asia, dengan warisan Cina, yang mampu beroperasi di dunia global,” ujar Victor (60 tahun), Chairman Li & Fung penuh rasa bangga. “Mereka sukses menunggangi gelombang interkoneksi dunia,” puji Chairman HSBC Holdings, SirJohn Bond, yang bukan cuma mengenal Victor dan William (Managing Director Li & Fung), tapi juga mengenal baik ayah dua orang ini, Fung Hon-chu ketika masih mengoperasionalkan perusahaan. “Mereka telah mentransformasikan perusahaan ini dari bisnis keluarga menjadi perusahaan kelas dunia,” ia menambahkan.

Sir John Bond benar. Victor dan William memang sukses mentransformasikan perusahaan ini. Transformasi pertama diawali telepon mengagetkan di tahun 1972. Ketika itu, William yang baru berusia 23 tahun menerima panggilan dari ibunya di Hong Kong.“Ibu bilang kalau kami tak segera pulang dan membantu, ayah akan bunuh diri,” ujarnya mengenang.

Seperti abangnya, William dikirim Fung Hon-chu untuk menuntut ilmu di Amerika Serikat. Di negeri ini, keduanya sukses. Victor mendapat gelar sarjana dan master teknik elektro dari Massachussetts Institute of Technology, serta Ph.D ekonomi bisnis dari Harvard Business School. Sementara itu, William meraih sarjana teknik dari Princeton University dan MBA dari Harvard. Ketika sang ibu menelepon, ayah mereka berusia 61 tahun. Saat itu Fung Hon-chu telah menjadikan Li & Fung perusahaan dengan bisnis yang terdiversifikasi. Ia telah sukses menyelamatkan bisnis keluarga dari masa-masa yang sulit.

Li & Fung dibesut pada 1937 di Canton (sekarang menjadi Guangzhou) oleh kakek Victor dan William, Fung Pakliu. Bersama mitranya, Li To-ming, mereka mendirikan Li & Fung sebagai perusahaan trading. Barang-barang yang mereka jual di antaranya porselen antik dan kerajinan tangan.

Masa sulit buat Li & Fung terjadi ketika Jepang menduduki Cina dan Hong Kong pada Perang Dunia II. Dan masa sulit itu kembali menghampiri ketika Partai Komunis yang dipimpin Mao Zedong menguasai Cina Daratan. Berkuasanya Komunis membuat keluarga Fung — yang menguasai Li & Fung selepas Li To-ming menjual sahamnya di tahun 1946 — kehilangan kekayaannya di Cina, dan memusatkan operasionalnya di Hong Kong. “Saat itu, ayah harus menemukan kembali jati diri perusahaan sebagai perusahaantrading,” ujar William.

Tangan dingin Fung Hon-chu membuat Li & Fung bangkit dan berdiri tegak. Seiring pengungsi Cina membanjiri perbatasan karena tak ingin di bawah penguasaan Mao Zedong, bisnis Li & Fung pun kian berkembang. Bahkan, menjadi konglomerasi kecil-kecilan lantaran bukan cuma trading yang mereka jalankan. Bisnis asuransi pun digeber sampai Fung Hon-chu merasa kewalahan sendiri mengendalikan usahanya, sehingga harus menyambat dua putranya yang asyik menimba ilmu di AS.

Sebenarnya kedua bersaudara ini ingin tinggal lebih lama di AS. Namun mereka tak kuasa menampik desakan sang bunda. “Victor bilang sama saya, ‘Kamu sudah seharusnya mencoba seluruh teori yang kamu pelajari sebagai seorang MBA’,” ujar William yang akhirnya pulang kampung di tahun 1972. Victor bertahan selama setahun untuk mengajar di almamaternya, Harvard Business School. Tahun berikutnya, 1973, ia menyusul sang adik pulang kampung.

Fung Hon-chu yang tak pernah kuliah meminta anak-anaknya untuk menjalankan perusahaan. Lantas, apa aksi Victor dan William? Sungguh menarik. Dasar akademisi, mereka memperlakukan Li & Fung yang dibesut kakeknya ini tak ubahnya kasus bisnis di Harvard. “Hal pertama yang saya bilang pada ayah adalah bahwa Harvard Business School mengajari saya tentang bisnis keluarga,” ujar William. Maksud pernyataan ini adalah mereka ingin mentransformasikan perusahaan keluarga ini menjadi lebih profesional. Ketika itu, seluruh paman dan bibi turut mengelola perusahaan. Demikian juga segelintir sepupu (Victor dan William mempunyai 35 sepupu).

Tahun 1973, transformasi dijalankan. Fung Hon-chu mengizinkan anaknya menjadikan Li & Fung perusahaan publik, dan membeli saham anggota keluarga yang tidak aktif. Setelah itu, Victor dan William pun benar-benar berupaya membuat perusahaan lebih profesional. Langkah yang cukup drastis terjadi di awal dekade 1980-an. Terinspirasi buku legendaris Tom Peters, In Searh of Excellence, mereka lalu menjual unit-unit usaha yang tidak berhubungan dengan bisnis inti perusahaan, seperti asuransi, realestate, dan kapal carteran. Ini semua dijual dengan satu tujuan besar: “Kami ingin me-reinvent perusahaan dagang,” William berujar.

Langkah konkret dari tekad besar tersebut segera terlihat dari model bisnis yang dijalankan. Li & Fung hanya fokus sebagai makelar perdagangan global: menghubungkan pembeli dan penjual di pelbagai belahan dunia. Transformasi kedua pun digelar dua bersaudara ini.

Namun seiring globalisasi yang kian kencang, di pertengahan dekade 1990-an transformasi ketiga kembali digulirkan. Melihat dunia perdagangan global semakin meniadakan batas negara, insting bisnis kedua putra Fung Hon-chu ini pun bekerja. Merasa sistem makelar tak bisa lagi dijalankan untuk keberlanjutan usaha Li & Fung, mereka memutuskan model makelar yang sekadar menjadi penghubung antara penjual dan pembeli harus diubah menjadi keterlibatan sejak proses produksi hingga delivery dengan memanfaatkan jaringan sumber daya global. Adapun bisnis yang digarap adalah fokus pada garmen dan apparel.

Konkretnya, Li & Fung melakukan setiap langkah untuk para kliennya di bisnis garmen dan apparel, mulai dari mendesain produk, mengalihdayakan bahan baku, memilih pabrik tempat memproduksi, mengirimnya ke klien, mengurus kepabeanan sampai siap pajang di toko. Dengan kata lain, segalanya serba virtual: pabrik, gudang, dan distribusi. Adapun imbalan yang dikutip bergantung pada sejauh mana tingkat keterlibatan Li & Fung dalam proses yang berlangsung.

Pilihan model bisnis ini ternyata benar-benar cespleng. “Sebelumnya, kami adalah order-taker. Sekarang, kami menasihati klien tentang item apa yang bagus untuk ditambahkan dan bagaimana caranya produk ditempatkan. Dulu kami adalah bagian kecil dari departemen impor mereka. Sekarang, kami adalah bagian dari pengembangan merchandise dan produk mereka, bahkan bagian dari pola pikir mereka,” Victor bertutur.

Tak ayal, transformasi Li & Fung dipuji banyak pengamat sebagai kejelian dalam menunggangi dinamika perdagangan global. Secara fisik, perusahaan ini sebetulnya sama seperti di dekade 1980-an: tak punya gerai penjualan produk, juga pabrik. Mereka pun tetap menghubungkan penjual dan pembeli. Namun bedanya, secara model bisnis, Li & Fung bergerak amat maju: dari sekadar makelar menjadi bagian penentu dari rantai pasokan para produsen.

Tak lena dipuji, di awal abad ke-21 ini, Victor dan William telah bergerak lebih cepat lagi. Setelah menancapkan kuku sebagai penentu rantai pasokan perdagangan global, mereka masuk ke bisnis lisensi merek. Li & Fung melisensi Levi Strauss Signature, Levi’s Red Tab, Canon, Royal Velvet, dan Disney. Perusahaan ini mendesain, memproduksi, dan mengirim produk dengan merek-merek tersebut dengan sasaran peritel besar seperti Wal-Mart, Target, Kohl, dan hypermarket lainnya, termasuk jaringan waralaba Toys “R” Us Asia dan Circle K.

Bukan cuma itu, Li & Fung juga telah bermitra dengan salah satu penawar tender Tommy Hilfiger Corp. Rencananya, perusahaan Hong Kong ini akan mengalihdayakan barang-barang bermerek Hilfiger dengan nilai bisnis mencapai US$ 1,7 miliar. “Jadi, kami ini mencipta ulang bisnis eksportir,” kata Victor, lagi-lagi dengan rasa bangga.

Kebanggaan doktor Harvard ini amatlah wajar. Pasalnya, Fung bersaudara harus memiliki keahlian tingkat tinggi seiring meningkatnya kompleksitas pabrik, rantai pasokan, pengiriman, dan pengelolaan produk (baik milik klien maupun lisensi) itu sendiri. Mereka juga harus adaptif terhadap aturan pemerintah yang dikeluarkan tiap negara seputar ekspor-impor.

Sementara ini, Cina memang masih menjadi tumpuan Li & Fung sebagai sumber daya, baik bahan baku maupun pabrik. Dan untuk Cina, Duo Fung mengakui keuntungan yang luar biasa. Selain menjadi sumber daya yang hebat (bahan baku berlimpah dan tenaga kerja murah), “Kalau di Cina, karena kami orang Cina, maka kami tak perlu penerjemah,” kata William berseloroh seperti dikutip time.com, Oktober tahun lalu. Namun, di luar Cina, perusahaan yang memiliki karyawan tetap 7.300 orang ini memiliki jaringan sumber daya bahan baku di 39 negara, termasuk Indonesia. Bisa dibayangkan betapa kompleksnya Victor dan William mengendalikan bisnisnya. Mereka harus menghubungkan konsumen Eropa dan AS dengan pabrik di 40 negara.

Hebatnya, mereka ternyata cukup pandai bermain di tengah dinamika perdagangan global, termasuk dengan segala ketidakpastiannya. Tahun lalu, misalnya. Ketika kuota bisnis pakaian dan tekstil dijadwalkan untuk dihapuskan dari WTO, Li & Fung menyarankan klien-kliennya untuk tetap melakukan pengiriman tekstil dari Cina. Faktanya, Eropa dan AS memang memprotes ekspor tekstil Cina. Akan tetapi, di tengah pembicaraan mereka dengan Cina yang berlarut-larut, kapal-kapal yang membawa pakaian dari Cina terus berlayar. Alhasil, bisnis klien Li & Fung pun sama sekali tak terganggu.

Keberhasilan Duo Fung ini tentu saja berimbas pada kinerja perusahaan. Para analis menaksir pendapatan Li & Fung ini akan mencapai US$ 10 miliar pada akhir 2007. Bahkan bisa lebih cepat bila bisnis dengan Tomy Hilfiger berjalan mulus, begitu pula bisnis lisensi merek yang amat menggiurkan. Victor dan William memperkirakan pendapatan bisnis lisensi merek ini tumbuh 10% di tahun 2008, dari US$ 80 juta di tahun 2004 menjadi US$ 1 miliar.

Yang menarik, ketika ditanya apa resepnya sehingga mereka bisa membuat Li & Fung seperti sekarang, kedua bersaudara ini memberi satu jawaban filosofis: Li & Fung mempertahankan aspek Cina, dengan karakteristik Barat. “Dalam berbisnis, kami telah mengembangkan pendekatan yang memadukan Timur dan Barat,” ucap Victor. “Metode kami amat kebaratan, yakni apa yang kami pelajari di Harvard. Namun, nilai-nilai kami amat ketimuran, misalnya, kami menghargai hubungan satu sama lain dan kewirausahaan,” sambungnya.

William menimpali bahwa kunci suskesnya adalah pada pembagian kerja di antara mereka berdua sejak 1973. Victor memusatkan diri pada strategi, sementara William pada operasional. “V(Victor) is for vision, W (William) is for work,” ungkapnya. “Saya pikir tak ada mitra sebaik William. Dia luar biasa dalam hal eksekusi,” timpal Victor yang memegang kewarnegaraan AS, sementara adiknya adalah pemegang paspor Inggris dan Hong Kong.

Apa yang mereka utarakan bukanlah omong kosong. Keduanya hidup di apartemen yang sama, dan amat menjaga keharmonisan satu sama lain. Mereka, misalnya, mengikuti tradisi Cina dalam hal makan bersama setiap Minggu. Mereka — yang masing-masing memiliki 20% saham Li & Fung ini — amat sadar bahwa perusahaan yang dibesut sang kakek, mesti dijaga sebaik-baiknya. Dan itu pula yang kini tengah ditanamkan pada generasi keempat Li & Fung. Sekarang, Terence, putra William yang berusia 25 tahun, telah mulai turut mengelola kerajaan bisnis ini.

Sumber : http://3cc4hc4lm.blogspot.com/2011/05/transformasi-duo-fung_03.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s