Tahapan – Tahapan dalam Menikah

  1. Usaha maksimal
  2. Memilih calon

Dan parameter dalam memilih calon adalah :

a. Baik agama dan akhlaqnya

b. Bukan orang musyrik atau kafir atau atheis dan bukan juga fasik

c. Yang menyenangkan dan berpotensi banyak anak

d. Tidak mengedepankan ukuran duniawi

Ada beberapa hadits yang dapat dijadikan landasan memilih calon :

تنكح المرأة لأربع : لمالها و لحسبها و لجمالها و لدينها فاظفر بذات الدين تربت

يداك

Artinya :“ Wanita itu dinikahi karena empat sebab ; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya, pilihlah wanita yang baik agamanya maka engkau akan beruntung “ ( HR. Bukhori dan Muslim )

خير النساء من اذا نظرت اليها سرتك واذا أمرتها أطاعتك و اذا أقسمت عليها أبرتك و اذا غبت عنها حفظتك في نفسها و مالك

Artinya : “ Sebaik-baik wanita adalah yang apabila kamu memandangnya akan menyenangkan, apabika kamu memerintahnya akan mematuhimu, apabila kamu memberinya akan menerimanya, dan apabila kamu pergi akan menjaga dirinya dan hartamu “ ( HR.Nasa’i dan yang lainnya )

اذا أتاكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه الا تفعلوه تكن فتنة في الأرض

و فساد عريض

Artinya : “ Apabila datang kepada kalian seorang yang kalian ridhai agama dan akhlaqnya, maka nikahkanlah anak kalian dengannya, karena bila tidak akan terjadi fitnah dan kerusakan besar “ ( HR. Tirmidzi )

  1. Khithbah ( meminang )

Yaitu menyatakan keinginan untuk menikahi seorang wanita, baik secara langsung atau melalui walinya , dan dalam hal ini harus terpenuhi 2 syarat :

a. Tidak didahului oleh pinangan laki-laki lain, Rasulullah saw bersabda :

لا يخطب الرجل علي خطبة أخيه حتي يترك الخاطب قبله أو يأذن له الخاطب

Artinya : “ Janganlah seseorang meminang pinangan saudaranya , sehingga saudaranya tersebut membatalkan pinangannya atau mengizinkannya “ ( HR. Bukhori )

b. Tidak terhalang dengan halangan syar’i yang menyebabkan tidak halal untuk dinikahi, yaitu :

1) Tidak bersuami

2) Bukan wanita yang haram untuk dinikahi untuk waktu tertentu atau untuk selamanya

3) Tidak dalam masa ‘iddah, kecuali ‘iddah karena ditinggal mati suami, maka boleh dipinang dengan sindiran ( QS. 2 : 235 )

Konskwensi Khithbah

a. Diperbolehkan bagi seorang yang akan meminang seorang wanita untuk melihatnya, berdasarkan sabda Rasulullah saw sebagai berikut :

Artinya : “ Apabila seseorang diantara kamu meminang wanita, maka kalau dapat melihat darinya, yang akan mendorongnya untuk menikahinya, hendaknya ia lakukan “ ( HR. Ahmad dan Abu Daud )

Artinya : “ Lihatlah ia, karena itu akan berpotensi untuk mengekalkan perjodohan kalian “ ( HR. Nasa’I, Ibnu Majah dan Tirmidzi )

b. Khithbah hanyalah pendahuluan nikah dan bukan akad nikah, karenanya tidak ada hukum baru yang ditimbulkannya, kecuali larangan bagi laki-laki lain untuk meminang wanita tersebut, kecuali dengan izin yang meminangnya terdahulu

  1. Akad Nikah

Pernikahan dalam Islam akan dianggap sah, bila rukun dan syaratnya terpenuhi

a. Rukun Nikah :

1) Mempelai laki-laki

2) Mempelai wanita

3) Wali

4) Dua orang saksi

5) Shiighah ( ijab dan qobul )

b. Syarat Nikah

1) Syarat suami :

a) Bukan mahrom dari calon istri

b) Tidak terpaksa

c) Jelas orangnya

d) Tidak sedang dalam ihrom

2). Syarat istri :

a) Tidak ada halangan syar’i

b) Atas kemauan sendiri

c) Jelas orangnya

d) Tidak sedang dalam ihrom

3). Syarat Wali :

Mayoritas Ulama’ berpendapat bahwa wali yang berhak untuk menikahkan seorang wanita adalah ’Ashabah/kerabat laki-laki ayah,dengan urutan sebagai berikut :

a) Ayah

b) Kakek

c) Anak laki-laki kebawah

d) Saudara laki-laki kebawah

e) Paman kebawah

f) Hakim

Adapun syarat-syaratnya adalah sebagai berikut :

a) Islam

b) Laki-laki

c) Baligh

d) Berakal

e) Adil

f) Tidak sedang dalam ihrom

4). Syarat Saksi :

a) Islam

b) Laki-laki

c) Baligh

d) Berakal

e) Adil

f) Dapat mendengar dan melihat

g) Tidak terpaksa

h) Tidak sedang dalam ihrom

i) Memahami bahasa yang dipergunakan dalam ijab qobul

5). Syarat Shighooh ( ijab dan qobul ) :

a) Dengan bahasa yang dimengerti oleh orang yang melakukan akad ; penerima akad dan saksi

b) Dengan kalimat yang jelas menunjukkan maksud nikah

c) Ada kesinambungan antara ijab dan qobul

d) Ada kesesuaian antara ijab dan qobul

e) Tidak terikat dengan syarat tertentu yang tidak sesuai dengan maksud akad atau dengan pembatasan waktu tertentu

c. Sunnah-sunnah dalam Akad Nikah

1) Khuthbah nikah ( sebelum akad )

2) Do’a untuk kedua mempelai

3) I’laan ( mengumumkan )

4) Walimah

d. Konskwensi Akad Nikah

Ada beberapa hukum yang lahir dengan terselanggaranya Akad Nikah :

1) Halalnya hubungan suami istri

2) Lahirnya hak dan kewajiban atas suami istri

3) Mahar

4) Hak waris

5) Mahromiyah

Ditulis Oleh : Ust. H. Agung Cahyadi, MA. (Materi dalam program Islamic Short Course Menengah, Pusda YDSF 2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s