MANUSIA = Makhluk Sosial ataukah Mesin Penghancur

Penulis : Imam Aris Munandar ( Mahasiswa STIE Bank BPD Jateng, Jurusan Manajemen )

Manusia terlahir kedunia ini dengan keadaan paling sempurna diantara makhluk-makhluk lainnya yang diciptakan oleh sang maha pencipta Allah SWT. Atas dasar itu pula manusia menyandang sebagai khalifah didunia yang fana ini, karena akal dan budi yang dianugrahkan oleh-Nya tersebut. Tapi kekuasaan manusia tersebut kadang kala disalah gunakan untk hal-hal yang salah atau tidak sejalan dengan garis kebenaran yang seharusnya dijalankan manusia agar dapat mencerminkan kedudukannya sebagai khalifah. Selain itu manusia juga sebagai makhluk sosial karena pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri dalam kehidupan bermasyarakat. Didunia ini manusia harus hidup bersama dalam  kehidupannya baik dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah maupun menjalankan kewajibannya kepada Allah SWT. Maka dari itu manusia sering kita sebut sebagai makhluk social yang artinya manusia membutuhkan orang lain dalam menjalankan kehidupannya dan tidak dapat hidup sendiri.

Pada hakekatnya manusia harus selalu bersama, baik dalam keadaan paling baik ataupun dalam keadaan paling buruk sekalipun karena manusia terlahir kedunia dalam keadaan bersama dan hakekatnya sebagai makhluk sosial. Apabila manusia berlaku adil dalam setiap keadaan sudah pastilah kehidupan masyarakat ini akan penuh rasa damai. Cinta kasih sesama manusia akan selalu terpancar dan aura positiflah yang akan timbul. Tetapi seiring berjalannya waktu dan berkembangnya zaman membuat tingkat keegoisan manusia seperti parasit yang terus tumbuh dalam hati manusia.  Orang-orang mulai acuh dengan keadaan lingkungannya, tidak ada rasa kepedulian diantara mereka. Gap-nya terlihat sangat jelas seolah-olah adanya tembok perbedaan kasta yang membedakan mereka yang menciptakan kesenjangan sosial dalam masyarakat yang seharusnya mereka saling berbagi bersama.

Perbedaan antara masyarakat kaya dan miskin mungkin saja menjadi sebuah penghalang bagi kehidupan manusia untuk hidup bersama sebagaimana mestinya. Tetapi rasanya sulit untuk mewujudkan hal tersebut karena rasa gengsi orang-orang kaya untuk bergaul dengan orang-orang kurang mampu sangatlah tinggi. Sehingga mereka enggan untuk melakukan interaksi dengan intensif. Yang lebih disayangkan adalah ketika adanya saling rasa benci diantara manusia itu sendiri, adanya peperangan sesamanya. Padahal manusia dilahirkan bersama untuk hidup berdampingan hingga akhir zaman, tapi kenapa justru saling memusnahkan karena keegoisan masing-masing dan keserakahan dalam diri yang membelenggu hingga pada akhirnya muncul pertumpahan darah dan korban.

Banyak sekali kejadian yagn menghancurkan diri mereka sendiri, ketika sebelumnya teknologi diciptakan untuk membantu atau memberikan kemudahan dalam setiap kehidupan manusia tetapi sekarang ini justru teknologi yang manusia ciptakan justru banyak juga yang membunuh penciptanya yaitu MANUSIA. Tak sadarkah manusia akan sikapnya yang membuat kerusakan terhadap dirinya sendiri.

Manusia tanpa sadar telah menciptakan dunianya, selain manusia juga terus menerus telah mengeksploitasi alam ini. Tuhan memang telah menciptakan alam semesta dengan segala isinya agar dapat dipergunakan oleh manusia dalam memenuhi kebutuhannya, tetapi yang adalah sebuah penghancuran terus-menerus pada alam ini tanpa memikirkan dampak yang akan muncul karena ulahnya sendiri. Tidak berjalannya fungsi manusia terhadap kepada ala mini membuat alam murka pada diri kita atau manusia sehingga tidak heran ketika banyak disana sini bencana alam yang merupakan sebuah peringatan dari alam akan ulah kita yang tidak lagi menghormati alam.

Tidak ada keselarasan, keserasian, dan keseimbangan membuat semua penghuni dunia ini berjalan dengan keeinginannya sendiri. Semuanya egois dengan kekukuhannya, manusia mengeksploitasi alam secara terus menerus tapi tidak melakukan pembenahan terhadap alam itu sendiri sedangkan alam yang marah dengan manusia seakan-akan berniat untuk memusnahkan manusia dari kehidupannya. Lalu dimanakah rasa tanggung jawabnya sebagai penghuni dunia ini yanag diciptakan untuk hidup bersama-sama hingga akhir zaman.

Rasa tanggung jawab yang telah menghilang dari lubuk hati manusia sebagai khalifah harusnya ditumbuhkan kembali, semua kejadian yang telah terjadi dibumi ini merupakan dampak atas ulah manusia itu sendiri. Apabila manusia dapat berbuat sebagai mana mestinya tentunya hidup ini akan indah. Sealain itu hal yang baik dapat menunjukan kewibawaan seorang manusia. Harkat yang diemban manusia memang tidaklah mudah tapi selayaknyalah sebagai penerima rahmat untuk bersikap secara bijaksana sebagai pemimpin didunia.

Kebijaksanaan manusia akan sikapnya adalah sebuah jati diri manusia sebagai khalifah, dan makhluk sosial yang abadi yang telah tergariskan dalam sebuah benang kehidupan sesuai dengan kehendak penciptanya. Karena manusia adalah makhluk sosial dan khalifah didunia ini dan bukan sebagai “MESIN PENGHANCUR”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s