Bahaya Laten Korupsi

Penulis : Didin Solihin ( Mahasiswa STIE Bank BPD Jateng, Jurusan Manajemen )

Negara indonesia seakan tidak pernah tuntas  dengan permasalahan korupsi,saat ini seakan-akan  korupsi menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan pejabat pemerintahan kita,yang penyakitnya mulai menular hingga pejabat kelas bawah.Remisi yang diberikan pemerintah terhadap pelaku koruptor seakan menjadi pijakan berikutnya untuk melakukan korupsi,bagaimana tidak penjara yang seharusnya dapat memberikn efek jera malah menjadi ajang pemberian remisi yang memudahkan pelaku koruptor dengan bebas menghirup udara segar seakan tanpa menaggung dosa. Seperti kasus korupsi yang saat ini masih sangat gencar di perbincangkan,kejahatan yang dilakukan tersangkan mantan manajer senior Citibank Melinda Dee dinilai polisi berkategori terbesar sebagai kasus yang ditangani pada 2011 ini.  Melinda dikabarkan bisa melakukan kejahatan perbankan tersebut karena memiliki modus yang rapih.

            Sebagai contoh pengembangan penyelidikan masih dilakukan dengan memeriksa  berbagai bukti pada tiga nasabah dan sejumlah barang bukti lain, di antaranya mobil Hummer keluaran 2010 yang dibeli secara kredit dengan uang muka Rp 310 juta yang dibayarkan dari salah satu nasabah tersebut. Kemudian mobil Mercedes 2010 yang dibeli secara kredit dengan uang muka Rp 246 juta yang juga dibayar dari dana  nasabah. Kemudian, mobil Ferari tahun 2010 atas nama Malinda Dee dan Ferari tahun 2010. Uang muka kedua mobil Ferari tersebut sebesar Rp 1,6 miliar.Tidak hanya itu saja uang yang di gunakan oleh Melinda Dee juga di pakai sebagai biaya perawatan untuk kebutuhan dirinya, bahkan ratusan juta dia rela keluarkan untuk biaya perawatan wajahnya.

Melihat fakta diatas sangat jelas kenapa korupsi saat ini menjadi hal yang “banal” dilakukan,karena kurang sadarnya diri seseorang terhadap apa yang seharusnya dilakukan dengan norma dan hukum yang berlaku di negara ini.Sebagai acuan bahwa binaan akhlak dari para pemegang jabatan juga harus benar- banar di pegang dengan teguh dalam artian seorang penguasa apabila memiliki akhalak yang mulia,mungkin akan berfikir kembali tentang apa yang akan dia lakukan,sudahkah tindakannya sesuai dengan norma hukum dan tidak akan melakukan pelanggaran yang melanggar norma-norma di negara ini.

Dengan kata lain, korupsi terjadi pada saat pelaku ekonomi mencoba memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki oleh para petinggi jabatan.Sebagai tujuan untuk mengejar keuntungan (profit) di luar proses yang sebenarnya. Sementara pelaku itu sendiri memanfaatkan hubungan tersebut untuk membiayai dirinya sendiri atau bahkan membiayai para oknum-oknum yang sengaja bekerja sama sehingga,pada akirnya kasus tersebut jika di lakukan pengusutan akan semakin banyak orang yang terlibat didalamnya.

Intitusi hukum saat ini  tidak mempunyai tindakan yang kuat untuk menjerat para pelaku korupsi,bahkan  sangat ironis seolah-olah intitusi hukum itu menjadi budak penguasa yang tidak mempunyai kekuatan apa-apa.Hukum seharusnya mampu mengakomodir serta tegas dalam pengambilan sebuah kebenaran.Namun bagaimana keadaan fakta saat ini lemahnya sistem pengawasan negara ini menjadikan banyak memberikan  celah bagi para koruptor untuk menjalaankan aksi nekatnya,disamping itu juga perlu adanya lembaga yang bisa mengawasi sehingga tidak terjadi terdengar kasus-kasus korupsi negara ini.

Jadi seharusnya saat ini intitusi hukum  harus mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat yang sudah mencap sebagai anak buah penguasa,sehingga penegakan hukum di Indonesia menjadi hal yang memang disegani oleh siapapun,agar tercipta sebuah keadilan yang didambakan oleh bangsa Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s