Orang Kaya yang Miskin atau Orang Miskin yang Sok Kaya ?

Penulis : Eko Sudarmakiyanto ( Mahasiswa STIE Bank BPD Jateng, Jurusan Manajemen )

Pada dasarnya setiap orang mendambakan penghidupan dan kehidupan yang bahagia dan semua keinginannya terwujud. Segala cara ditempuh untuk memenuhi hasrat keinginan. Bahkan keinginan justru dijadikan prioritas utama, sementara kebutuhan utama malah dinomorduakan. Judul di atas tidak bermaksud untuk mendeskriditkan pihak manapun. Judul tersebut hanya perumpamaan untuk mendeskripsikan fenomena yang terjadi saat ini. Melihat contoh kecil dari teman mahasiswa, banyak yang berpenampilan kinclong, setiap ada teknologi handphone terbaru selalu dibeli, bersama teman-teman shopping di mall. Namun, di sisi lain mereka memiliki banyak hutang pulsa, buku pendukung kuliah tidak ada, ballpoint saja pinjam sana sini. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka? Apakah mereka dari kalangan orang berada, karena mampu membeli ini itu, atau dari kalangan kurang mampu, karena tidak dapat membeli pulsa, buku pendukung kuliah, dan ballpoint sendiri.

Di luar apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, dapat dikatakan mereka tidak tentram hatinya , selalu merasa khawatir, tidak tenang, tidak sabar, cemas manakala keinginan hasrat keinginan mereka tidak terpenuhi. Mereka merasa gelisah hingga membuatnya mengeluarkan keringat dingin, jantungnya berdetak sangat kencang, tekanan darahnya naik ketika mereka tidak dapat menunjukkan handphone baru pada teman, atau tidak ikut serta dalam kegiatan shopping bersama yang lain. Itu tanda kegelisahan sesorang yang menyebabkan mereka memaksakan suatu keadaan terjadi pada mereka untuk selalu sejalan dengan keinginan mereka.

Jadi saat ini orang lebih gelisah terhadap apa yang tampak oleh orang lain, bukan lagi gelisah terhadap kebutuhan prioritas yang harus dipenuhi. Jika meninjau faktor yang menyebabkan gelisah tersebut, sebenarnya faktor utamanya adalah berasalk dari dalam diri sendiri. Persepsi mereka yang merasa berbeda, berbeda dalam artian lebih kurang dari yang lain. Sehingga muncul keinginan untuk menyamai dengan kondisi yang lain. Apapun dilakukan agar mereka tidak terasingkan dari yang lain. Bagi kalangan yang mampu cenderung melupakan kebutuhan pokok mereka. Sementara bagi kalangan yang kurang mampu akan memaksakan keadaan sehingga muncul istilah lebih besar pasak daripada tiang.

Kegelisahan tersebut memiliki dampak negatif, karena untuk memenuhi keinginannya, “apaapun akan dilakukan”, kata-kata “apapun” ini lah yang membutakan mata hati mereka, entah itu jalan benar atau jalan salah bakal di tempuh agar hasrat keinginannya terpenuhi. Jika jalan yang ditembuh itu benar tidak menjadi suatu masalah. Namun, jika jalan yang ditembuh adalah jalan yang salah, maka akan menimbulkan masalah yang terus bercabang tiada berujung. Sebagai contoh seorang mahasiswa menginginkan BlackBerry dan tidak memiliki uang, maka dia akan berbohong pada orang tua, atau berhutang pada teman untuk mendapatkan uang guna membeli BlackBerry itu. Jika orang tua tidak percaya atau tidak dapat memberikan uang, maka ia akan nekad untuk mencuri, bahkan parahnya mengancam membunuh orang tuanya, dan yang lebih irosnis ketika sampai benar-benar membunuh orang tuanya sendiri hanya demi keinginan membali BlackBerry. Contoh lain seorang mahasiswa dari kalangan berada membela gengsinya untuk membeli mobil Bugatti Veron, namun di sisi lain dia tidak mementingkan kebutuhan kuliah, SPP nunggak, banyak hutang, dll. Jad kebutuhan kecil yang utama di kesampingkan sementara keinginan yang belum tentu diperlukan malah dipenuhi. Hal ini justru menjadi rishi bagi orang-orang yang disekitarnya. Misal orang yang dihutangi, jelas dia akan berpikir “orang kaya kok ngutang…” atau  “ orang kaya kok SPP-nya nunggak”, jelas ini akan jadi bahan perbincangan. Bagi yang bersangkutan sendiri, tidak tau roda kehidupan akan terus berputar dan keadaan berbalik, hingga dia tidak bisa membayar hutangnya atau tunggakannya. Itulah sebagian contoh akibat dari kegelisahan seseorang yang berdampak buruk baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Dalam kajian ilmiah, kegelisahan tersebut termasuk dalam kegelisahan moril yaitu kegelisahan yang disebabkan oleh pribadinya sendiri. Kegelisahan itu muncul karena mereka merasa selalu kurang, dan ingin selalu mengejar keinginan dan kesenangan. Yang dapat mengatasi masalah mereka adalah diri mereka sendiri. Kegelisahan mereka akan berkurang atu bahkan hilang jika mereka mau menerima apapun keadaan mereka dengan lapang hati. Orang-orang yang menunjukkan apapun bentuk kegelisahannya seharusnya didekati agar lebih terbuka untuk membatu mereka menerima bagaimanapun keadaan mereka. Jadi, dukungan orang-orang terdekatlah yang dapat membantu mereka mengatasi kegelisahan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s