Goes To Merbabu 17 – 19 Juni 2011

Kali Pertama Menginjakkan Kaki di Puncak Merbabu, Saat Matahari Terbenam, Dingin yang Panas Bersama Mapala Argawana STIE Bank BPD Jateng

Boyolali,17 – 19 Juni 2012, saya bersama teman-teman Mapala Argawana STIE Bank BPD Jateng melakukan pendakian Gunung Merbabu. Bagi saya ini adalah kali pertama menapaki jalan setapak menuju puncak Merbabu. Jalur yang dipilih adalah jalur Selo, Boyolali.

Saya bersama teman-teman berangkat dari kampus setelah shalat Jumat. Teman- teman dari STIE Bank BPD Jateng (dari kiri ke kanan)  yaitu Gilang Eko Budiono, Didin Solihin, Eko Sudarmakiyanto (saya), Riyanto, Yunia Asriyatin Nikmah, Siti Aprilatun Hasanah, Olivia Adha Agustina, Iswan Nurul F (tidak ikut), dan Imam Aris Munandar. Setelah berdoa bersama dengan pembina, Bapak Yanuar, kami menuju depan kampus untuk memulai perjalanan.

Persiapan Berangkat dari Kampus STIE Bank BPD Jateng
Perjalanan dari Semarang hingga menuju basecamp Kang Bari menggunakan angkutan umum, muilai dari bus kota, bus mikro, menumpang mobil pick up yang membawa sayuran, dan dilanjutkan dengan jalan kaki. Jarak lumayan jauh, tetapi lelah tak dirasa, karena perjalanan dilakukan bersama-sama. Canda dan tawa senantiasa menyelimuti tiap langkah kami.
Samping terminal Boyolali, Menunggu bis menuju Cepogo

Selepas Shalat Isya kami berangkat dari basecamp kang Bari. Diawali dengan doa, saya dan 9 orang teman mulai menaruh langkah demi langkah. Hawa dinginnya mulai dirasa dada agak sesak, tetapi itu bukan masalah karena sudah normal itu adalah fase penyesuaian tubuh dengan suasana gunung, baik dengan suhu, tekanan udara, maupun dengan perilaku kita sendiri.Menjelang pos I, mulai ada kekhawatiran, karena salah satu teman cewek merasa kurang enak badan, dan optimis untuk nge-camp. Akhirnya, diputuskan mendirikan tenda dome di pos I. Semalaman kami nge-camp, masak, ngobral obrol, dan Istirahat hingga jam 8 pagi. Setelah bangun, kembali masak lagi, ada yang membuat kopi, masak nasi, mie instan, bahkan menggoreng kentang. Seusai makan, langsung packing perlengkapan dan membersihkan tempat camp. Ingat kode etik, “Tidak meninggalkan apapun kecuali jejak langkah”. Setelah dirasa siap, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Menunggu makanan masak, di depan Camp, Pos I

Sekitar satu jam berjalan, ternyata dengan track yang agak vertikal, membuat salah satu teman kami benar-benar tidak kuat. Akhirnya kembali diputuskan membagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama melanjutkan perjalanan menuju puncak berjumlah 7 orang. Sementara kelompok kedua menemani teman kami yang kurang fit kembali menuju basecamp Kang Bari. Cerita berlanjut pada kelompok pertama, dengan langkah yang agak kurang pasti karena merasa ada yang kurang, kami tetap terus berjalan hingga break di pos II.

Beristirahat di Pos II

Setelah dirasa istirahat cukup, kami kembali melangkahkan kaki melanjutkan perjalanan. Track kali ini sudah bervariasi, lebih curam, bahkan ada jalan yang sempit. Di medan ini pohon-pohon besar mulai berkurang, kecuali pohon edelweiss. Beberapa lama akhirnya sampai juga di Sabana 1. Di sini kami bisa beristirahat sambil membasahi tenggorokan dengan sedikit makanan kecil untuk mengganjal perut.

Beristirahat di Sabana I

Dari Sabana I, kembali melanjutkan perjalanan menuju Pos III. Langkah semakin menyerat-nyeret, karena track semakin vertikal hingga keringat terkuras. Butuh kesabaran ekstra hingga menuju Pos III. Di Pos III ini pemandangan mualai terlihat mempesona, keadaan sudah tidak membosankan. Apalagi ketika sedikit melangkahkan kaki menuju Watu Tulis. Dari sana pemandangan Gunung Merapi, Sindoro, Sumbing, Slamet, dan Lawu terlihat jelas dan mengagumkan. Begitu luar biasa ciptaan Allah yang tiada dapat menandingi. Dari Watu Tulis, lanjut lagi menuju ke Sabana 2 dan Sabana 3. Secara fisik, perjalanan dari Sabana 2 ke Sabana 3, terasa sangat membosankan, meski medanya sudah ada yang datar. Namun, secara psikis, hal itu terobati dengan view yang Subhanallah. Bukit-bukitnya itu, bagaikan di film Teletubies. Padang rumput yang begitu luas, angin yang begitu sejuk, berteduh di bawah pohon edelweiss, wah rasanya ingin memejamkan mata sejenak. Kadang pula membayangkan jika bermain bola di Sabana 3, asik dah kayaknya.

Pemandangan Sabana 2 dan Merapi dari Sabana 3
Perjalanan  di Sabana 3

Setelah berbaring di Sabana 3, masih harus berjuang lagi menuju Hutan Edelweiss. Meski sudah nampak begitu lelah, harapan puncak di depan mata membuat semangat berkobar kembali. Berjalan tak begitu lama akhirnya tiba juga di Hutan Edelweiss. Di sana kami mendirikan tenda dome, dan menaruh semua perlengkapan kami di dalamnya. Namun, perjuangan masih belum berakhir hingga di situ. Karena kami masih punya tujuan, menggapai “Puncak Merbabu”. Dengan membawa perlengkapan minum dan mantel/jas hujan, kami melanjutkan perjuangan melewati tanjakan frustasi. Begitulah disebutnya, karena track yang begitu vertikal, puncak terlihat dekat, tetapi tak kunjung sampai. Bahkan hingga membuat salah satu teman cewek kami menangis.

Ada yang menangis di Tanjakan Frustasi
Di Tanjakan frustasi, Posisi di atas gumpalan awan mengelilingi Merapi

Namun, apapun yang terjadi, kita sudah mempunyai tujuan, dan tinggal beberapa langkah lagi tercapai. Bismillahirrahmanirrahim, Subhanallah, Allahuakbar, Alhamdulillah, Laailahailallah, Akhirnya kami sampai di Puncak Merbau, dan yang menambah kekaguman kami adalah selain timingnya sewaktu matahari terbenam (baca:sunset), view-nya itu luar biasa, awan yang bergumpal-gumpal seperti membentuk kasur di atas awan, dan posisi kami berada di atasnya, belum lagi lekuk gunung Merapi yang tampak jelas dab begitu eksotis, ditambah beberapa puncak gunung lain seperti, Sindoro, Sumbing, Lawu, Slamet,dll.

7 Orang berhasil mencapai “Puncak Merbabu”
Mengibarkan Sang Merah Putih dan Bendera Mapala Argawana
di “Puncak Merbabu” saat matahari Terbenam

Berikut ini dokumentasi lengkapnya :

Ket :

Teman-teman yang ikut dalam pendakian Merbabu :
Eko Sudarmakiyanto, Didin Solihin, Imam Aris Munandar, Gilang Eko Budiono, Yunia Asriyatin Nikmah, Riyanti, Siti Aprilatun Hasanah, Olivia Adha Agustina, dan teman-teman dari Boyolali Edo Paryanto alias Gogon dan Muhammad Arifin alias Slank.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s