Pendidikan Agama Islam ׀ Agama Dan Masyarakat

Pengertian Agama Dan Masyarakat

Secara terminologi dalam ensiklopedi Nasional Indonesia, agama diartikan aturan atau tata cara hidup manusia dengan hubungannya dengan tuhan dan sesamanya.  Dalam al-Qur’an agama sering disebut dengan istilah din. Istilah ini merupakan istilah bawaan dari ajaran Islam sehingga mempunyai kandungan makna yang bersifat umum dan universal. Artinya konsep yang ada pada istilah din seharusnya mencakup makna-makna yang ada pada istilah agama dan religi.

Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang telah memiliki tatanan kehidupan, norma-norma, adat istiadat yang sama-sama ditaati dalam lingkungannya.  Masyarakat dalam arti luas adalah keseluruhan hubungan dalam hidup bersama dan tidak dibatasi oleh lingkungan, bangsa dan sebagainya. Sedangkan dalam arti sempit, masyarakat adalah sekelompok manusia yang dibatasi oleh aspek-aspek tertentu, misalnya teritorial, bangsa, golongan dan lain sebagainya

Kaitan Agama dengan Masyarakat

Kaitan agama dengan masyarakat banyak dibuktikan oleh pengetahuan agama yang meliputi penulisan sejarah dan figur nabi dalam mengubah kehidupan sosial, argumentasi rasional tentang arti dan hakikat kehidupan, tentang Tuhan dan kesadaran akan maut menimbulkan relegi, dan sila Ketuhanan Yang Maha Esa sampai pada pengalaman agamanya para tasauf.
Bukti di atas sampai pada pendapat bahwa agama merupakan tempat mencari makna hidup yang final dan ultimate. Kemudian, pada urutannya agama yang diyakininya merupakan sumber motivasi tindakan individu dalam hubungan sosialnya, dan kembali kepada konsep hubungan agama dengan masyarakat, di mana pengalaman keagamaan akan terefleksikan pada tindakan sosial, dan individu dengan masyarakat seharusnyalah tidak bersifat antagonis.

Agama telah dicirikan sebagai pemersatu aspirasi manusia yang paling sublime; sebagai sejumlah besar moralitas, sumber tatanan masyarakat dan perdamaian batin individu; sebagai sesuatu yang memuliakan dan yang membuat manusia beradab. Sebenarnya lembaga keagamaan adalah menyangkut hal yang mengandung arti penting tertentu, menyangkut masalah aspek kehidupan manusia, yang dalam transendensinya, mencakup sesuatu yang mempunyai arti penting dan menonjol bagi manusia. Bahkan sejarah menunjukkan bahwa lembaga-lembaga keagamaan merupakan bentuk asosiasi manusia yang paling mungkin untuk terus bertahan.

Islam dan Masyarakat Madani

Kata Madani berasal dari bahasa Arab  مدنyang artinya menempati suatu tempat  Dalam bahasa Arab, kata “madani” tentu saja berkaitan dengan kata “madinah” atau ‘kota”, sehingga masyarakat madani bisa berarti masyarakat kota atau perkotaan . Meskipun begitu, istilah kota disini, tidak merujuk semata-mata kepada letak geografis, tetapi justru kepada karakter atau sifat-sifat tertentu yang cocok untuk penduduk sebuah kota. Dari sini kita paham  bahwa masyarakat madani tidak asal masyarakat yang berada di perkotaan, tetapi yang lebih penting adalah memiliki sifat-sifat yang cocok dengan orang kota,yaitu yang berperadaban. Dalam kamus bahasa Inggris diartikan sebagai kata “civilized”, yang artinya memiliki peradaban (civilization), dan dalam kamus bahasa Arab dengan kata “tamaddun” yang juga berarti  peradaban atau kebudayaan tinggi.

Ketika ada istilah civil society yang digunakan para pemikir barat untuk merujuk ciri khas masyarakat tertentu, maka diterjemahkan dengan المجتمع المدني, atau kemudian diindonesiakan menjadi masyarakat madani atau masyarakat sipil. Jika yang dimaksud masyarakat madani adalah civil society, maka untuk menilainya apakah sesuai dengan Islam atau bukan, kita harus melacak konsep civil society tersebut.

Nilai Agama dasar Tegaknya Masyarakat Madani

Sebagai sumber nilai, agama dapat ditempatkan menjadi kekuatan sebagai konstruk budaya dan perubahan yang pada gilirannya akan membentuk tatanan kemasyarakatan yang ideal. Nuansa masyarakat yang tercermin dari nilai etis-religius merupakan bangunan masyarakat keadaban. Hal ini menggambarkan bahwa cita-cita dan tugas suci kenabian adalah membentuk masyarakat beradab. Tugas ini ditempuh dalam waktu berpuluh-puluh tahun lamanya. Bagi Nabi, cita-cita membentuk masyarakat adab adalah bagian integral dalam menjalankan risalah agama.
Dalam pandangan Nurcholish Madjid, keyakinan beragama memiliki impilikasi nilai dalam kehidupan. Nilai itu misalnya, berbuat adil, karena seperti dalam pandangan al- Qur’an, bahwa menegakkan keadilan adalah mendekati konsep taqwa. “sebagai sebuah sistem sosial yang adil merupakan kelanjutan logis saja dari keinsyafan ketuhanan”.

Sebagai makhluk sosial yang beriman tidaklah mungkin mendukung sistem tiranik, sebab setiap tirani bertentangan dengan pandangan hidup yang hanya memutlakkan Tuhan Yang Maha Esa. Sikap terbuka kepada sesama manusia, dalam kedalaman jiwa saling menghargai. Namun tidak terlepas dari sikap kritis, adalah indikasi adaya petuntuk dari Tuhan.

Jadi, sikap kritis yang mendasari keterbukaan merupakan salah satu konsekuensi keyakinan agama, karena hal itu merupakan kelanjutan dari sikap pemutlakan yang hanya kepada Tuhan, dan penisbian kepada segala sesuatu selain Tuhan. Nilai–nilai keimanan mengajarkan bahwa segala hal yang menyangkut sesama manusia, diselesaikan melalui musyawarah-partisipatif (jalan kompromi), suatu proses timbal balik (reciproed) antar para pesertanya, dengan hak dan kewajiban yang sama. Sehingga masyarakat beriman adalah masyarakat musyawarah, yakni sebagai media untuk menyelasaikan persoalan umat.

Sebagai msyarakat musyawarah, upaya yang harus diciptakan sebagai mendukungnya adalah membangun sistem keterbukaan (inklusifitas) di tengah-tengah kelompok sosial. Tanpa dukungan ini, masyarakat madani tidak akan memperoleh ketenangan, melainkan rasa kecurigaan, syak dan cenderung apologetik. Serta rentannya sikap sekterianisme yang menganggap bahwa kebenaran hanya mungkin datang dari kelompoknya sendiri, dengan cara menolak kebenaran yang datang dari kelompok lain. Akhirnya, yang terjadi adalah kebenaran tunggal, kebenaran kelompok yang sangat parsial itu.Melalui nilai agama, kita diajarkan untuk saling bertukar pedapat, gagasan, ide dan dengan sendirinya menghormati kemungkinan perbedaan. Dinamika keterbukaan itu juga dengan sendirinya mengundang kebebasan. Sementara logika kebebasan adalah tanggung jawab. Seorang disebut bebas apabila ia dapat melakukan sesuatu seperti dikehendakinya sendiri atas pilihan serta pertimbangannya sendiri, sehingga orang tersebut secara logis dapat dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukannya.

Kaitannya dengan tersedianya ruang kebebasannya ini, dijelaskan oleh Bradley yang kemudian dikutip Benn dan Peter, bahwa kebebasan melibatkan beberapa persyaratan.

Pertama, kelangsungan identitas perorangan. Artinya tindakan yang tetap mencerminkan kepribadian orang yang bersangkutan. Dengan tetap komitman melaksanakan nilai-nilai yang tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah kehidupan, yang mencerminkan kebebasan nurani.

Kedua, seseorang disebut bebas dan bertanggung jawab kalau pekerjaan yang dilakukannya benar-benar keluar dari dirinya sendiri, jadi tidak dipaksakan dari luar.

Ketiga, orang disebut bebas dan bertanggung jawab jika ia berakal. Yakni ia mengetahui keadaan khusus perkara yang dihadapi. Jika ia melakukannya karena ia tidak mengerti, maka ia tidak dapat dipandang sebagai bertanggung jawab.

Keempat, orang yang besangkutan haruslah seorang pelaku moral (moral agent), yaitu orang yang mengetahui aturan umum yang dituntut oleh masyarakatnya. Tanpa pengetahuan itu, seseorang tidak mungkin diperlakukan sebagai bertanggung jawab atas tindakannya.

Konsep Masyarakat dalam Islam

Bagi Islam konsep masyarakat adalah suatu yang utuh, tak terpecah. Islam memandang bahwa individu merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari jama’ah. Jama’ah tak bisa dipisahkan dari keberadaan Daulah (negara). Dengan amat indahnya Rasulullah menggambarkan dengan sabdanya :

“Perumpamaan orang-orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan yang melanggarnya adalah bagaikan kaum yang menumpang sebuah kapal. Sebagian mereka berada di atas sebagian lainnya berada di bawah. Jika  orang yang berada di bawah membutuhkan air, mereka harus melewati orang yang berada di atasnya. Lalu mereka berkata : “Andai saja kami lubangi (kapal ini) pada bagian kami, tentu kami tak akan menyakiti orang yang berada di atas kami. Tetapi jika yang demikian itu dibiarkan oleh mereka yang berada di atas (padahal mereka tidak menghendaki) akan binasalah seluruhnya. Dan jika mereka menghendaki keselamatan –dengan mencegahnya– maka akan selamatlah semuanya” (HR.Bukhori No 2493 dan 2686).

Jadi setiap Individu merupakan bagian dari jamaah yang tidak terpisahkan dan senantiasa harus memiliki pemikiran yang saling menghubungkan mereka berdasarkan fikroh. Tentu perlu juga aturan yang memberikan pemecahan masalah mereka.

Dalam Islam bentuk pemerintahan dan masyarakat terjalin hubungan yang harmonis dan berkesinambungan. Keberadaan sebuah Daulah (Negara) bagi Islam sangat dibutuhkan dalam rangka untuk melaksanakan hukum-hukum (Syari’at) Islam dan mengemban risalah dari nash-nash syara’ yang mulia, yaitu Al Qur’anul Karim ke seluruh alam.

Jadi agar agama tidak hanya sekedar menjadi ritual saja, agama perlu dipahami sebagai nilai yang memberikan moral dan cita-cita masyarakat ideal (masyarakat madani). Adapun nilai itu misalnya, keadilan, kebenaran universal, persaudaraan dan hubungan yang dialogis dalam tata kehidupan yang kompleks dan majemuk.

Download

Download bahan mata kuliah Pendidikan Agama Islam Bab Agama dan Masyarakat.

Sumber Referensi :

  • E-learning Gunadarma
  • Bahan Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di STIE Bank BPD Jateng yang disampaikan Bapak Nurwan.
  • Tugas Form.1 EKO SUDARMAKIYANTO (NIM.1M101535) Bab Agama dan Masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s