Pendidikan Agama Islam ׀ Sumber Agama dan Ajaran Islam

Agama Islam bersumber dari Al Quran yang memuat Wahyu Allah, dan Al Hadist yang memuat sunah Rasulullah dengan komponen utamanya akidah, syariah. Sedangkan Ajaran Islam Ajaran Islam adalah ajaran yang bersumber dari agama Islam yang dikembangkan oleh akal pikiran manusia yang memenuhi syarat untuk mengembangkannya. Mempelajari Agama Islam hukumnya fardu ‘ain, sedangkan mengkaji ajaran Islam hukumnya fardu kifayah. Jadi, Islam merupakan pengembangan agama atau ajaran agama Islam. Dengan demikian, dalam Islam ada 2(dua) ajaran, yaitu ajaran fundamental dan ajaran instrumental.

Sumber ajaran Islam dirumuskan dengan jelas dalam percakapan Nabi Muhammad dengan sahabat beliau Mu’az bin Jabal, yakni terdiri dari tiga sumber yaitu al-Qur’an (kitabullah), as-Sunnah (kini dihimpun dalam hadis), dan ra’yu atau akal pikiran manusia yang memenuhi syarat untuk berijtihad. Ketiga sumber ajaran ini merupakan satu rangkaian kesatuan dengan urutan yang tidak boleh dibalik.

Sumber Primer

1. AL QUR’AN

Secara etimologis, al-Qur’an berasal dari kata qara’a, yaqra’u, qiraa’atan atau qur’aanan yang berarti mengumpulkan (al-jam’u) dan menghimpun (al-dlammu). Huruf-huruf serta kata-kata dari satu bagian kebagian lain secara teratur dikatakan al-Qur’an karena ia berisikan intisari dari semua kitabullah dan intisari dari ilmu pengetahuan. (Al Qiyamah [75]:17-18).

Sedangkan menurut para ulama klasik, al-Qur’an didefinisikan sebagai berikut:

Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan pada Rasulullah dengan bahasa Arab, merupakan mu’jizat dan diriwayatkan secara mutawatir serta membacanya adalah ibadah. Al Quran diturunkan selama 22 tahun 2 bulan 22 hari dan berjumlah 30 Juz, 114 Surat 6666 ayat. Berdasarkan tempat diturunkannya, ayat Al Quran dibedakan menjadi Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah.

Adapun pokok-pokok kandungan dalam al-Qur’an antara lain:

  1. Tauhid, yaitu kepercayaan terhadap ke-Esaan Allah dan semua kepercayaan yang berhubungan dengan-Nya.
  2. Ibadah, yaitu semua bentuk perbuatan sebagai manifestasi dari kepercayaan ajaran tauhid.
  3. Janji dan ancaman (al wa’d wal wa’iid), yaitu janji pahala bagi orang yang percaya dan mau mengamalkan isi al-Qur’an dan ancaman siksa bagi orang yang mengingkarinya.
  4. Kisah umat terdahulu, seperti para Nabi dan Rasul dalam menyiarkan risalah Allah maupun kisah orang-orang shaleh ataupun orang yang mengingkari kebenaran al-Qur’an agar dapat dijadikan pembelajaran bagi umat setelahnya.

Pada referensi lain disimpulkan Al Quran sebagai sumber agama dan ajaran Islam memuat (terutama) soal-soal pokok yang berkenaan dengan : Akidah, Syari’ah, Akhlak, Kisah umat terdahulu, benih dan prinsip ilmu pengetahuan, dan Sunnatullah.

Al-Quran mengandung tiga komponen dasar hukum, sebagai berikut:

  • Hukum I’tiqadiah, yakni hukum yang mengatur hubungan rohaniah manusia dengan Allah SWT dan hal-hal yang berkaitan dengan akidah/keimanan. Hukum ini tercermin dalam Rukun Iman. Ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Tauhid, Ilmu Ushuluddin, atau Ilmu Kalam.
  • Hukum Amaliah, yakni hukum yang mengatur secara lahiriah hubungan manusia dengan Allah SWT, antara manusia dengan sesama manusia, serta manusia dengan lingkungan sekitar. Hukum amaliah ini tercermin dalam Rukun Islam dan disebut hukum syara/syariat. Adapun ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Fikih.
  • Hukum Khuluqiah, yakni hukum yang berkaitan dengan perilaku normal manusia dalam kehidupan, baik sebagai makhluk individual atau makhluk sosial. Hukum ini tercermin dalam konsep Ihsan. Adapun ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Akhlaq atau Tasawuf.

Sedangkan khusus hukum syara dapat dibagi menjadi dua kelompok, yakni:

  • Hukum ibadah, yaitu hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, misalnya salat, puasa, zakat, haji, dank urban.
  • Hukum muamalat, yaitu hukum yang mengatur manusia dengan sesama manusia dan alam sekitarnya. Termasuk ke dalam hukum muamalat adalah sebagai berikut:
  • Hukum munakahat (pernikahan).
  • Hukum faraid (waris).
  • Hukum jinayat (pidana).
  • Hukum hudud (hukuman).
  • Hukum jual-beli dan perjanjian.
  • Hukum al-khilafah (tata Negara/kepemerintahan).
  • Hukum makanan dan penyembelihan.
  • Hukum aqdiyah (pengadilan).
  • Hukum jihad (peperangan).
  • Hukum dauliyah (antarbangsa).

Menurut S.H. Nasr, sebagai pedoman abadi, Al Quran mempunyai 3 jenis petunjuk bagi manusia, pertama ajaran tentang susunan alam semesta dan posisi manusia di dalamnya, kedua Al quran berisi ringkasan sejarah manusia, ketiga Al Quran berisi sesuatu yang sulit dijelaskan dalam bahasa modern.

Metode penafsiran Al Quran :

  1. Metode Ma’tsur (metode riwayat)
  2. Metode penalaran : a.  Metode Tahlily (analisis)       b. Metode Maudhu’iy (tematik)

2. AS-SUNNAH ATAU HADIS

Sunnah menurut istilah syar’i adalah sesuatu yang berasal dari Rasulullah Saw. baik berupa perkataan, perbuatan, dan penetapan pengakuan. Sunnah berfungsi sebagai penjelas ayat-ayat al-Qur’an yang kurang jelas atau sebagai penentu beberapa hukum yang tidak terdapat dalam al-Qur’an.

As-Sunnah dibagi menjadi empat macam, yakni:

  1. Sunnah Qauliyah, yaitu semua perkataan Rasulullah
  2. Sunnah Fi’liyah, yaitu semua perbuatan Rasulullah
  3. Sunnah Taqririyah, yaitu penetapan dan pengakuan Nabi terhadap pernyataan ataupun perbuatan orang lain
  4. Sunnah Hammiyah, yakni sesuatu yang telah direncanakan akan dikerjakan tapi tidak sampai dikerjakan.

Ada beberapa ahli hadis yang mengatakan bahwa istilah hadis dipergunakan khusus untuk sunnah qauliyah (perkataan Nabi), sedangkan sunnah fi’liyah (perbuatan) dan sunnah taqririyah tidak disebut hadis, tetapi sunnah saja.

Sebagaimana halnya Al Quran yang dijelaskan dengan tafsir, Hadist juga memerlukan penjelasan yang dinamakan syarah.

Sumber Sekunder

3. SUMBER PELENGKAP AR-RA’YU

Secara garis besar ayat-ayat al-Qur’an dibedakan atas ayat muhkamat dan ayat mutasyabihat. Ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang sudah jelas dan terang maksudnya dan hukum yang dikandungnya tidak memerlukan penafsiran. Pada umumnya bersifat perintah, seperti penegakkan shalat, puasa, zakat dan haji.

Sedangkan ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang memerlukan penafsiran lebih lanjut walaupun dalam bunyinya sudah jelas mempunyai arti, seperti ayat mengenai gejala alam yang terjadi setiap hari. Adanya ayat mutasyabihat mengisyaratkan manusia untuk mempergunakan akalnya dengan benar serta berpikir mengenai ketetapan hukum peristiwa tertentu yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam al-Qur’an maupun Sunnah Rasulullah.

Ijtihad berasal dari kata ijtihada yang berarti mencurahkan tenaga dan pikiran atau bekerja semaksimal mungkin. Sedangkan Ijtihad sendiri berarti mencurahkan segala kemampuan berpikir untuk mengeluarkan hukum syar’i dari dalil-dalil syarak, yaitu Al Quran dan Hadist. Orang yang menetapkan hukum dengan jalan ini disebut mujtahid. Hasil dari ijtihad merupakan sumber hukum Islam yang ketiga setelah Al Quran dan Hadist.

Walaupun Islam adalah agama yang berdasarkan wahyu dari Allah SWT, Islam sangat menghargai akal. Hal ini terbukti dengan banyaknya ayat Al Quran yang memerintahkan manusia untuk menggunakan akal pikirannya, seperti pada surat An Nahl ayat 67 “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkannya”. Oleh karena itu, apabila ada suatu masalah yang hukumnya tidak terdapat di Al Quran maupun Hadist, maka diperintahkan untuk berijtihad dengan menggunakan akal pikiran dengan tetap mengacu kepada Al Quran dan Hadist.

Adapun macam-macam bentuk ijtihad yang dikenal dalam syariat Islam, yaitu:

  1. Ijma’, menurut bahasa artinya sepakat, setuju, atau sependapat. Sedangkan menurut istilah adalah kebulatan pendapat ahli ijtihad umat Nabi Muhammad SAW sesudah beliau wafat pada suatu masa, tentang hukum suatu perkara dengan cara musyawarah. Hasil dari Ijma’ adalah fatwa, yaitu keputusan bersama para ulama dan ahli agama yang berwenang untuk diikuti seluruh umat.
  2. Qiyas yang berarti mengukur sesuatu dengan yang lain dan menyamakannya. Dengan kata lain Qiyas dapat diartikan pula sebagai suatu upaya untuk membandingkan suatu perkara dengan perkara lain yang mempunyai pokok masalah atau sebab akibat yang sama.
  3. Istihsan yang berarti suatu proses perpindahan dari suatu Qiyas kepada Qiyas lainnya yang lebih kuat atau mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima untuk mencegah kemudharatan atau dapat diartikan pula menetapkan hukum suatu perkara yang menurut logika dapat dibenarkan.
  4. Mushalat Murshalah, menurut bahasa berarti kesejahteraan umum. Adapum menurut istilah adalah perkara-perkara yang perlu dilakukan demi kemaslahatan manusia.
  5. Sududz Dzariah, menurut bahasa berarti menutup jalan, sedangkan menurut istilah adalah tindakan memutuskan suatu yang mubah menjadi makruh atau haram demi kepentingan umat.
  6. Istishab yang berarti melanjutkan berlakunya hukum yang telah ada dan telah ditetapkan di masa lalu hingga ada dalil yang mengubah kedudukan hukum tersebut.
  7. Urf. berupa perbuatan yang dilakukan terus-menerus (adat), baik berupa perkataan maupun perbuatan.

Ijtihad mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam dan merupakan sumber hukum Islam yang ketiga setelah Al Quran dan Hadist. Dengan ijtihad itu umat Islam menyelesaikan persoalan-persoalan yang hukumnya tidak ada dalam Al Quran maupun Hadist. Setelah Rasulullah wafat, tidak ada lagi sosok yang dapat ditanya secara langsung tentang masalah-masalah Islam. Oleh karena itu, ijtihad dijadikan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan tetap mengacu pada Al Quran dan Hadist.

Al Ahkam dan Al Khamsah adalah lima ukuran penilai yang disebut norma atau kaidah dalam ajaran Islam. Pedoman norma adalah kaidah yaitu aturan atau ketentuan yang mengikat, kadang-kdang disebut juga patokan, ukuran pembuatan manusia dan benda Al Ahkam dan Al Khamsah (lima hukum atau kaidah) meliputi seluruh lingkungan.

Download

Download bahan mata kuliah Pendidikan Agama Islam Bab Sumber Agama dan Ajaran Islam

Sumber Referensi :

  • E-learning Gunadarma
  • Bahan Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di STIE Bank BPD Jateng yang disampaikan Bapak Nurwan.
  • Tugas Form.1 EKO SUDARMAKIYANTO (NIM.1M101535) Bab Sumber Agama dan Ajaran Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s