Kutemukan Belahan Jiwaku

Jodoh, rejeki dan kematian adalah rahasia mutlak milik Allah SWT, Sang Maha Agung dan Bijaksana, tidak ada satu makhluk pun yang dapat mengetahuinya kecuali Sang Pemilik diri kita. Hal tersebut telah terpatri erat dalam pikiranku sejak dulu. Ini yang mendorongku untuk terus berikhtiar, istiqomah dan selalu ber-khusnudzankepada Allah Azza wa Jalla tentang kapan saatnya tiba menemukan belahan jiwaku.

Dalam proses pencarian diusiaku yang keduapuluhenam, beberapa teman dekat mulai dijajaki, ta’aruf pun dilakukan. Dalam proses ta’aruf, salah seorang sempat melontarkan ide tentang pernikahan dan rencana khitbah. Namun herannya, hati ini kok emoh dan tetap tidak tergerak untuk memberikan jawaban pasti. Hey, what’s going on with me? Bukankah aku sedang dikejar usia yang terus merambat menua? Bukankah aku sedang dalam proses pencarian belahan jiwa? Apalagi sebagai anak terakhir dari lima bersaudara, yang semuanya sudah berumahtangga, tentunya semua keluargaku sudah sangat mendambakan aku segera menyempurnakan separuh dienku, apalagi ibuku.

Sungguh teramat berat menjalani hidup dengan status lajang. Belum lagi lingkungan kerja dan di desa tempat keluargaku tinggal saat ini di mana kabar – seringnya gosip atau gunjingan – cepat menyebar, benar-benar merupakan cobaan besar yang harus dihadapi. Tetapi, semuanya aku jalani dengan penuh keikhlasan. “Ya, mungkin saya masih harus bekerja lebih banyak waktu buat masyarakat”, hanya itu yang bisa aku katakan setiap ada yang menanyakan kenapa belum menikah. “Ya, mungkin Allah masih belum mempercayakan seorang suami kepada saya dan saya masih harus belajar mengurangi ego sebelum saya menjadi seorang isteri”, kataku di lain waktu. “Ya, mungkin Allah memberi waktu saya lebih banyak mencurahkan waktu buat orang tua”, balasku ringan.

Mereka mengatakan bahwa aku adalah type ‘pemilih’ yang lebih suka jodoh yang tampan, kaya raya dan baik hati, dan lainnya yang serba super dan wah. Tapi, aku gelengkan kepalaku ke arah mereka karena kriteria seorang calon suami bagiku adalah si dia seorang muslim sejati yang mempunyai visi yang sama untuk membangun sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah, bahagia dunia akhirat, satu untuk selamanya, yang mempunyai tujuan menikah tidak hanya untuk meneruskan keturunan saja, tapi untuk beribadah dan menambah keimanan kita dan bukan sebaliknya, dan itu akan terwujud jika Allah mengkaruniakan pasangan yang tepat untuk kita.

Dan aku percaya bahwa tidak akan ada yang tertukar dari pemberian Allah, Allah akan memberikan yang terbaik dan indah pada waktunya. Tapi lucunya, kalau diminta untuk mengejewantahkan ke dalam diri seseorang, jujur saja aku tidak tahu.

Again, jodoh memang benar – benar sebuah rahasia yang mutlak milik Allah SWT. Proses pertemuanku dengan sang suami pun bak cerita dongeng. Jangankan sahabat atau rekan kantor, pun jika kami kembali me-rewind proses pertemuan kami, wuih… Unbelievable! But it happened! Subhanallah…

Suamiku adalah sosok yang biasa dan sederhana, namun justru kesederhanaan dan keterbiasaannya itulah yang memikat hati ini. Dan, alhamdulillah hampir mendekati kriteria seorang suami yang aku dambakan. Di beberapa malam kebersamaan kami, suami sering menanyakan kepadaku tentang satu hal, “Apakah kamu bahagia menikah dengan aku?”

Aku pun menjawab dengan jeda waktu sedikit lama, “Ya, aku bahagia. ” Masya Allah, seandainya suamiku tahu, besarnya rasa bahagia yang ada di dada ini lebih dari yang dia tahu. Besarnya rasa syukur ini memiliki dia cukup menggetarkan segenap hati sampai aku perlu jeda waktu untuk menjawab pertanyaannya. Hanya, aku masih belum mampu mengungkapkan secara verbal. Allah yang Maha Mengetahui segala getaran cinta yang ada di hati bunda, Allah yang Maha Mengetahui segala rasa sayang yang ada di jiwa bunda. Karena, atas nama Allah bunda mencintai ayah.

Pertama kali aku kenal dengan suamiku adalah waktu itu siang hari saat bulan suci ramadhan hampir berakhir, aku sedang mengikuti ceramah Aa’ Gym kesukaanku di TV, tiba – tiba aku dikagetkan oleh dering suara telepon ”Assalamualaikum, bisa bicara dengan elik?” kata si empunya suara dari seberang sana. ”Waalaikumsalam, Iya, saya sendiri” jawabku. Taufan adalah pemilik suara di telepon itu, dia tahu identitasku dari sebuah cyber Islami yang mana aku adalah salah satu anggotanya. Akhirnya kami terlibat dalam sebuah pembicaraan.

Sebelumnya kami berdua belum mengenal satu sama lain. Hanya kesabaran, perhatian dan pengertiannya sempat mampir di dalam pikiranku. Setelah itu kami kerap berhubungan lewat telepon sekedar untuk mengobrol dan saling mengenal satu sama lain. Perkenalan kami diawali saat itu, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk ta’aruf. Di sinilah aku merasakan kuasa Allah yang sangat besar, ternyata kami banyak menemukan kecocokan dan sepertinya dia seseorang yang bisa diajak menggapai surga dunia dan akhirat.

Namun beberapa hari kemudian, entah kenapa wajahnya yang kulihat lewat foto yang dia kirim ke emailku mulai hadir di pikiranku kembali. Ternyata hal yang sama pun terjadi di pihak sana. Kami pun sepakat untuk melakukan istikharah. Subhanallaah, tidak ada kebimbangan sama sekali dalam hati kami berdua untuk menyegerakan hubungan ini ke dalam pernikahan. Namun saat ini aku harus bersabar menunggu sampai dia pulang dari negeri sakura, karena saat itu dia sedang ada di negeri itu untuk bekerja, kembali kesabaranku diuji.

Penantianku selama 7 bulan ternyata membuahkan hasil, setelah Taufan kembali dari negeri sakura, dia dan keluarganya mengkhitbahku. Mungkin ini buah kesabaran yang Allah berikan kepada kami. Kami rasakan ‘tangan’ Allah benar-benar turun menolong memudahkan segala urusan. Sujud syukur kami berdua, karena semua acara berjalan begitu lancar, dari mulai dukungan seluruh keluarga, urusan penghulu dan pengurusan surat-surat ke KUA.

Maha Suci Allah, hal tersebut semakin menguatkan hati kami, bahwa pernikahan ini adalah rencana terbaik dari Allah SWT dan Dia-lah Pemersatu bagi perjanjian suci kami ini. Dalam isak tangis kebahagiaan kami atas segala kemudahan yang diberikan-Nya, tak pernah putus kami bersyukur akan nikmat-Nya. Insya Allah, pernikahan kami merupakan hijrahnya kami menuju kehidupan yang lebih baik dengan mengharap ridha Allah, karena perkenalan itu berawal saat bulan suci ramadhan, saat Allah membukakan pintu maaf dan mengabulkan semua doa umatNya yang memohon kepadaNya.

Sesungguhnya tak pernah sang kekasih mencari tanpa dicari oleh kekasihnya Apabila kilat cinta t’lah menyambar hati ini Ketahuilah bahwa ada cinta dalam hati yang lain.

Apabila cinta Allah bertambah besar di dalam hatimu pastilah Allah menaruh cinta atasmu. Tak ada bunyi tepuk tangan hanya dengan satu tangan.

Kebijaksanaan Ilahi adalah takdir dan ketetapan yang membuat kita cinta satu dengan yang lain Sampai akhir hingga dunia akan terpelihara oleh kesatuan kita…

God know what we need not what we want

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s