5 M Meraih Sukses

Assalammu’alaikum Wr Wb.

Imam Al-Ghazali melihat pada diri manusia terdapat empat tipe:
1. Manusia yang tahu bahwa dirinya tidak tahu
2.Manusia yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu
3.Manusia yang tahu bahwa dirinya tahu
4.Manusia yang tidak tahu bahwa dirinya tahu

Dari ke-4 tipe manusia di atas, dapat disimpulkan sbb:
Golongan pertama ia termasuk manusia yang tahu yang diri.
Golongan kedua adalah tipe orang yang tidak tahu diri.
Golongan ketiga adalah orang yang sadar akan kemampuan dirinya, dan Golongan keempat adalah orang yang tidak sadar akan kemampuan dirinya.
Dari keempat golongan tadi yg menjadi kurang menguntungkan adalah golonagn kedua dan keempat karena masing2 tidak mengetahui kelebihan dan kekurangannya.
Pada akhirnya,kedua karakter inilah yang menyeret seseorang terhampar jauh dari kesuksesan.

Sukses itu mempunyai muatan makna yang berbeda.
Sukses tidak ditakar dengan materi, tetapi lebih dari itu kesuksesan dinilai dari aspek batiniyah dan sesuatu yang tidak nampak secara kasat mata.
Bisa pula sukses dilihat dari sisi ta’abudi dan ukhrawi.
Sehingga sukses tidak bearti kaya raya, tidak juga memiliki banyak kedudukan.
Sebab orang kaya sekalipun belum tentu dianggap sukses jika misalnya hidupnya tidak tenang, dikejar-kejar masalah dan banyak dihantui problematika hidup.
Tetapi orang miskin bisa saja disebut sukses jika dia hidup dengan tenang, serba kecukupan, tentram dan pandai bersyukur.

Sebenarnya, makna sukses itu sangat sederhana.
Kita renungi pesan dari hadist Saw: ”Siapa yang hari ini lebih baik dari hari
kemarin bearti dia orang yang beruntung,”
Artinya kesuksesan diukur dengan kualitas hidup lebih baik.
Kita beramal lebih baik dari sebelumnya, bersedekah lebih ikhlas, bekerja lebih profesional dan menjalani hidup lebih mantap dan berkualitas.
Sebagai khalifah di muka bumi ini, kita harus dapat menyadari, mengisi dan menghiasi kehidupan yang merupakan amanat Illahi yang akan diminta pertanggung jawabannya di hari kelak.
Sebagaimana dinyatakan di dalam Al-Qur’an Surat Huud ayat 61, Allah berfirman; ”Hua ansya akum minal ardhi wasta marakum fiha….(Dia yang mewujudkan kamu dari bumi dan kamu yang memakmurkan di dalamnya bumi itu )
Oleh karenanya,saya tertarik untuk memaparkan pendapat Syekh Abdulah Nashih Ulwan di dalam kitab karangannya Ruhaniyatut da’iyah dengan konsep 5 M nya yaitu; Mu’adah, Muraqabah, Muhasabah, Mu’aqobah dan Mujahadah.

1.Mu’ahadah bearti perjanjian, Mua’hadah konkret yang kita ikrarkan kepada Allah pada setiap sholat wajib pada ucapan sebagaimana terdapat dalam surat Al-Fatihah ”Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in.”
Ikrar tersebut merupakan sebuah janji yang bermuatan aqidah, ibadah dan akhlak.
Di dalam kitab Sofwatut Tafaasir dijelaskan bahwa didahulukan kata ”Iyyaaka” yang berkedudukan sebagai maf’ul (objek) daripada fi’il (kata kerja) ”Na’budu” dan ”Nasta’in” adalah Lilikhtishash (untuk mengkhususkan), yakni tidak ada yang berhak di sembah dan di minta pertolongan kecuali Allah semata.
Dan ayat ini mengajarkan tuntunan kepada manusia bahwa meminta pertolongan hendaknya dilakukan setelah melakukan perintah-Nya.

2.Muraqabah, artinyamerasa selalu diawasi dan disertai oleh Allah sehingga dengan adanya kesadaran ini akan mendorong manusia untuk senantiasa rajin melaksakan perintah dan menjahui larangan.
Dalam kondisi dan situasi apapun manusia selalu berhasrat dan berkeinginan untuk berbuat yang paling baik menjunjung nilai kejujuran dan keadilan meskipun tidak ada orang yang melihatnya.
Di jelaskan dalam firman-Nya: ”Wamaa yalfidzu min qoulin illa ladaihi roqiib ‘atid” (Tiada suatu ucapanpun yang di ucapkannya, melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalau hadir) (Qs. Qof: 18)

3.Muhasabah, yang bearti intropeksi diri.
Tidak selalu melihat lurus ke depan.
Tetapi kita sesekali harus melihat ke belakang, membuka catatan2 kehidupan di waktu yang telah lewat.
Bahkan Al-Qur’an sendiri menegaskan, bahwa hendaknya setiap jiwa bercermin ke masa lalu sebagai bekal kuat untuk masa akan datang. (Qs. Al-Hasyr: 18)

4.Mu’aqobah yang artinya pemberian sanksi terhadap diri sendiri, Apabila melakukan kesalahan atau kekurangan maka ia akan menghapuskannya dengan melakukan amal yang lebih utama meskipun terasa berat.
Misalnya, menginfaqkan sebagian hartanya karena meninggalkan sholat berjamaah.

5.Mujahadah, artinya bersungguh-sungguh dalam niat hidup, optimal kerja, dan berjuang.
Di era informasi dewasa ini, tuntutan yang paling essensial agar manusia tetap eksis, tidak terkapar dan tidak tertinggal dalam percaturan hidup adalah manakala manusia dapat mengembangkan potensinya, dalam arti mampu menciptakan produk dan mempunyai etos kerja yang tinggi.
InsyaAllah dengan memahami, menghayati dan mengaktualisasikan 5 M ini, hidup yang kita jalani akan terasa lebih hidup dan bermakna Amiin.

Wassalammu’alaikum Wr Wb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s