ANTARA PLIN PLAN DAN FLEKSIBILITAS

Apakah kita termasuk orang yang plin-plan ataukah termasuk orang yang fleksibel? Apa bedanya? Dalam praktek, ini kerap membingungkan. Yang kita sepakati umumnya adalah, plin-plan itu selalu konotasinya negatif. Sedangkan fleksibel itu konotasinya positif. Bahkan fleksibel ini menjadi skill kunci dalam berkarir di bidang apapun.

Secara teori, plin-plan itu sering diartikan sebagai indecisiveness. Ini adalah ketidakmampuan kita dalam menentukan keputusan atau bersikap dengan alasan-alasan yang sangat tidak kuat. Orang plin-plan itu adalah orang yang gampang melakukan bongkar-pasang rencana, keputusan atau penyikapan. Plin-plan ini dipahami sebagai lawan dari kepercayaan-diri (self-confidence) atau pede. Dalam teori kompetensi, ada sejumlah istilah yang pengertianya kira-kira sama dengan kepercayaan-diri ini. Beberapa istilah itu antara lain adalah:

v Decisiveness

v Ego strength

v Independence

v Strong-self concept

v Willing to take responsibility

Kalau ingin didetailkan, penjelasannya kira-kira seperti di bawah ini:

v Orang yang pede nya bagus (sehat) biasanya punya keputusan hidup yang mantap, tidak plin-plan, tidak ragu-ragu, tidak minder, dan seterusnya.

v Orang yang pede nya bagus (sehat) biasanya punya power personal yang kuat, kharismatik, disegani, dan semisalnya.

v Orang yang pede nya bagus (sehat) biasanya relatif lebih terbebas dari berbagai rasa terancam atau rasa tertekan, baik itu oleh keadaan atau oleh lingkungan.

v Orang yang pede nya bagus (sehat) biasanya punya jati diri yang jauh lebih kuat dan jauh lebih jelas.

v Orang yang pede nya bagus (sehat) biasanya punya komitmen yang kuat untuk maju atau punya kesadaran tanggung jawab yang lebih tinggi

Dengan kata lain, orang yang plin-plan itu adalah orang yang pedenya tidak bagus, belum bagus, atau perlu diperbaiki. Menurut salah satu tulisan milik Jim Rohn, pakar filsafat bisnis di Amerika, plin-plan ini termasuk musuh batin manusia yang perlu dilawan.

Dalam prakteknya, ke-plin-plan-an seseorang itu bisa dijelaskan menjadi dua. Pertama adalah plin-plan yang sifatnya sudah bawaan dari sejak kecil yang tidak diperbaiki. Setiap orang itu kan membawa bawaan-bawaan tertentu yang menjadi sifat kita. Ada bawaan yang bisa disebut positif dan ada yang negatif. Plin-plan termasuk bawaan yang negatif. Apakah ini bisa diubah? Tentu bisa. Hanya saja memang tingkat kesulitannya tergantung pada kadarnya.

Kedua adalah karena kondisi-kondisi temporer. Ketika kita harus bersikap atau mengambil keputusan untuk hal-hal yang secara pengetahun dan pengalaman masih minim, memang terkadang tidak bisa dihindari untuk tidak plin-plan, untuk tidak bongkar-pasang rencana. Plin-plan seperti ini mungkin dibutuhkan selama spiritnya dan sasarannya adalah mencari yang lebih baik.

Lalu bagaimana dengan fleksibilitas atau fleksibel? Kenapa selalu dikonotasikan positif. Kalau membaca nesehat-nasehatnya Musashi, misalnya dalam The Book of Five Rings for Executive, fleksibel itu digambarkan seperti watak air. Musashi menjelaskannya dengan istilah ordered flexibility. Fleksibel di sini diartikan sebagai kapasitas untuk tetap menjadi diri sendiri dalam keadaan tetap bisa beradaptasi dengan lingkungan atau orang lain.

Contoh yang paling bisa ditiru adalah air. Air itu ditempatkan dimanapun, dia tetap air. Tetapi, meskipun tetap air, ia bisa beradaptasi dengan tempat yang digunakan untuk menaruhnya. Ketika diletakkan di botol, air membentuk dirinya seperti botol. Ketika diletakkan digelas, air membentuk dirinya seperti gelas. Dengan fleksibilitasnya ini, air tidak mudah dipatahkan, tidak seperti kayu.

Dari penggunaan yang sudah lazim dipakai, plin-plan itu kelemahan. Sedangkan fleksibel itu adalah kekuatan. Plin-plan itu diidentikkan dengan lemahnya pendirian. Sedangkan fleksibelitas itu diidentikkan dengan kematangan seseorang dalam menjalankan pendiriannya. Orang yang matang dalam menjalankan pendiriannya itu bukan orang yang kaku atau orang yang keras (keras kepala). Oleh Anthony Robbin digambarkan, mereka mempertahankan pendiriannya sekuat batu karang, tetapi mengaplikasikannya di lapangan seperti orang yang berenang. Orang yang berenang adalah orang yang fleksibel karena bisa menyesuaikan dirinya dengan ombak.

Sebab-sebab Ke-plin-plan-an

Dari beberapa penjelasan para ahli yang sempat saya baca, berikut ini adalah beberapa hal yang sangat berpotensi membuat kita menjadi plin-plan:

Pertama, terlalu takut gagal yang disebabkan oleh kepercayaan diri yang rendah atau self-esteem yang rendah. Takut gagal yang kita gunakan untuk mengantisipasi hal-hal yang bakal menggagalkan keberhasilan kita, tentu ini positif. Tetapi, takut gagal yang disebabkan oleh kepercyaan-diri yang rendah biasanya menimbulkan ke-plin-plan-an

Kedua, dominasi orang lain / orang luar. Sebelum kita mengambil keputusan, idealnya memang kita perlu mendengarkan berbagai masukan, tetapi ketika hendak memutuskan, yang perlu kita dengarkan adalah diri sendiri. Nah, terlalu mendengarkan orang lain, biasanya menimbulkan ke-plin-plan-an.

Ketiga, cepat frustasi atau menyerah. Ini biasanya kurang melatih diri dalam bersabar saat menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi atau pukulan buruk. Katanya, orang yang mentalnya kuat itu cepat mengambil keputusan tetapi lamban dalam mengubahnya. Mereka akan memperjuangkan keputusannya habis-habisan. Baru ketika perjuangannya itu tidak menunjukkan tanda-tanda kesuksesan, keputusannya diubah pelan-pelan. Ini beda dengan orang yang mentalitasnya belum matang. Biasanya, mereka lamban dalam mengambil keputusan, bahkan terkesan mempersulit hal-hal yang mudah, namun cepat mengubah keputusan.

Keempat, arogansi, kesombongan, atau hal-hal yang semakna dengan itu. Kenapa ini terkait dengan ke-plin-plan-an. Kesombongan itu sebenarnya adalah kelemahan. Dikatakan lemah karena, semkain kita sombong, semakin besar porsi yang kita berikan kepada orang lain untuk mengontrol hidup kita. Ini misalnya kita gampang tersinggung, gampang merasa dilecehkan, gampang merasa tersaingi, dan lain-lain. Ini semua akan menggoyahkan keputusan kita. Jadilah kita plin-plan.

Kelima, terlalu percaya pada hal-hal mistik yang i-rasional. Teori manajemen mengajarkan, dasarkan keputusan anda pada fakta-fakta dan akal sehat. Dalam keadaan kepepet, dasarkan pada intuisi atau feeling yang natural. Untuk hal-hal yang masih blank dasarkan pada suara-suara Tuhan (yang baik, yang benar, dan yang bermanfaat). Terlalu percaya yang hal-hal mistik yang i-rasional dapat melemahkan keputusan kita.

Keenam, keragu-raguan, kegamangan, dan semisalnya yang timbul akibat pikiran tidak tenang, atau pikiran kosong. Ini juga mengakibatkan plin-plan. Termasuk di sini juga pandangan hidup yang digerakkan oleh energi pesimisme dalam melihat masa depan.

Ketujuh, kebiasaan terlalu sering curhat, terlalu mendengarkan masukan dari sumber-sumber yang tidak jelas, tidak tahu kapan harus meminta nasehat orang lain, dan kebiasaan yang semisalnya juga membuat kita kerap menjadi orang yang plin-plan. Opini, nasehat, atau masukan orang lain itu harus dibedakan antara yang asbun (asal bunyi), dan yang memang punya dasar. Dengarkan yang kedua dan forget it untuk yang pertama.

Kedelapan, kurang siap dalam menghadapi resiko hidup, kurang siap menghadapi konsekuensi tindakan, atau kebiasaan lari dari tanggung jawab (escaping tendency), pun juga kerap mengakibatkan kita menjadi orang yang plin-plan.

Kesembilan, pengetahuan dan pengalaman yang masih dangkal atau yang masih baru juga bisa menimbulkan keputusan yang plin-plan. Terkadang ini tidak bisa dihindari untuk kita yang mau menerjuni bidang baru atau menggarap persoalan yang belum ada referensinya. Antisipasinya adalah bertanya, membaca, atau menganalogikan pengalaman milik kita pada situasi baru.

Itulah beberapa hal yang kerap dianggap berpotensi melahirkan keputusan yang plin-plan. Kita bisa menjadikannya sebagai acuan dalam mengoreksi diri atau untuk memperbaiki diri.

Sumber Fleksibilitas

Fleksibilitas dalam dunia kerja adalah skill (acquired ability). Artinya, semua orang bisa menjadi fleksibel asalkan mau menempuh proses pembelajaran yang dibutuhkan untuk itu. Dalam teori kompetensi, fleksibilitas ini diartikan sebagai kemampuan dalam beradaptasi atau kemampuan untuk bisa bekerja secara efektif di berbagai kondisi atau situasi (lihat: Competence at Work, 1993). Istilah lain yang bisa menggambarkan kemampuan ini, antara lain adalah:

v Adaptibility (kemampuan beradaptasi)

v Ability to change (kemampuan untuk mengubah diri)

v Perceptual objectively (Kemampuan memunculkan persepsi objektif)

v Staying objective (kemampuan bersabar secara objektif)

v Resilience (kemampuan untuk menjadi orang yang tangguh)

Di antara tanda-tanda orang yang fleksibel ini adalah: kemampuan memahami dan menghargai berbagai perspektif atau pendapat tentang sebuah isu. Tandanya lagi adalah kemampuan menyesuaikan pendekatan (an approach) terhadap situasi yang sedang berubah atau kemampuan untuk bisa menerima (secara positif) perubahan yang sedang terjadi, entah itu perubahan keadaan eksternal atau perubahan organisasi.

Karena berupa skill yang didapat seseorang (achieved quality), makanya ada skalanya yang membedakan tingkatan rendah dan tingkatan tinggi. Sekedar sebagai acuan, di bawah ini ada penjelasan yang bisa kita jadikan referensi pembelajaran:

v Skala minus satu (-1): kita mempertahankan kebenaran-sendiri atau mempertahankan egoisme hawa nafsu, menganggap orang lain itu salah, masa bodoh dengan orang lain, dan lebih baik memilih bertengkar dengan orang lain

v Skala nol (0): Kita hanya mengikuti prosedur yang ada saja supaya bisa selamat, sekedar menjalankan apa yang diperintahkan dan menghindari apa yang dilarang. Asal selamat saja.

v Skala satu (1): Kita sudah belajar untuk melihat situasai yang ada secara objektif, kita punya pendapat yang kita akui benar tetapi juga tetap mengakui pendapat orang lain yang mungkin juga benar.

v Skala dua (2): Kita sudah belajar menerapkan / menjalankan aturan atau prosedur secara fleksibel, berdasarkan keadaan kita secara pribadi dan sosial

v Skala tiga (3): Kita sudah belajar menyesuaikan taktik dan respon kita terhadap perubahan keadaan atau perubahan orang lain secara fleksibel. Kita mengubah prilaku berdasarkan perubahan keadaan.

v Skala empat (4): Kita sudah belajar mengubah strategi, goal (tujuan kecil), atau proyek untuk bisa sesuai dengan situasi yang sedang berubah, namun tetap fokus pada tujuan utama (tujuan besar) kita.

v Skala lima (5): Kita sudah belajar menyesuaikan jurus-jurus organisasi yang benar-benar klop dengan perubahan keadaan eksternal

v Skala enam (6): Kita sudah belajar mengadaptasikan strategi atau rencana jangka panjang terhadap perubahan-perubahan yang mungkin terjadi.

Itulah sebagian penjelasan yang bisa kita jadikan referensi pembelajaran. Kenapa pembelajaran atau belajar itu penting dalam menjelaskan skala-skala di atas? Tentu saja. Tidak ada orang yang bisa berpura-pura untuk memiliki skala fleksibilitas enam kalau dirinya belum secara riil berada pada skala itu. Ketika kita mencoba berpura-pura, mungkin yang terjadi adalah plin-plan. Karena itulah pembelajaran menjadi penting. Pembelajaran di sini adalah changing behavior, changing habit, and changing culture, berdasarkan praktek, pengalaman dan pengatahuan.

Melihat penjelasan yang ada, rasa-rasanya yang terpenting selama dalam proses pembelajaran itu adalah:

Pertama, menghilangkan egoisme hawa nafsu, menghilangkan perasaan yang sudah merasa paling benar sendiri, atau menutup pintu pikiran dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah kita miliki. Menurut pesan dari ajaran Spiritual Jawa (Javanese Spiritual Doctrine), yang terpenting untuk seorang pembelajar adalah menyimpan pengetahuan dan pengalaman lamanya untuk sementara waktu supaya bisa membuka pintu pengetahaun dan pengalaman baru.

Pesan ini berlaku untuk orang yang bergelar akademis rendah atau tinggi, untuk orang yang level pengetahuan rendah atau level pengetahuan tinggi, untuk orang yang senior atau yunior. Orang yang bergelar akademis tinggi tetapi merasa teori-teorinya sebagai paling benar, maka perasaannya itulah yang menggagalkan dia untuk menjadi pembelajar. Lebih-lebih orang yang tidak bergelar dan merasa sudah tahu semua.

Karena itu, konon di Amerika pernah dilakukan semacam riset untuk para pengusaha yang pernah jaya namun kemudian mengalami kemunduran. Dari sekian reason yang terungkap, salah satunya adalah, karena para senior itu merasa pengalamannya selama ini sebagai yang paling benar. Perasaannya inilah yang membuat dirinya gagal beradaptasi dengan perubahan lingkungan di luar. Karena sudah merasa sukses dalam usaha, mereka mengabaikan masukan atau petunjuk-petunjuk situasi.

Kedua, melatih kemampuan dalam mengambil pelajaran penting-spesifik dari apa yang kita baca (buku, majalah, laporan), apa yang kita lihat (orang lain) dan apa yang kita observasi (perubahan situasi). Pelajaran di sini artinya adalah apa yng kita hayati dan apa yang kita simpulkan dari apa yang kita lihat. Kemampuan ini sangat penting untuk meningkatkan fleksibilitas. Kemampuan ini bisa kita asah antara lain dengan: bertanya, bercakap-cakap dengan orang, bertukar pendapat, berdialog, membaca, dan lain-lain. Intinya, kita bisa meningkatkan kemampuan ini dengan membaca, bertanya, mendengarkan, dan (yang paling penting) menerapkan.

Ketiga, melatih kemampuan dalam merumuskan sebuah tujuan besar (visi, misalnya) atau rencana besar (long term planning), atau gagasan besar, lalu kita ikuti dengan mengembangkan kemampuan untuk menemukan cara atau taktik yang sebanyak mungkin. Jadi, tentukan satu sasaran yang jelas namun dekati dari berbagai cara yang paling mungkin. Bahkan bila sasaran itu perlu diubah, ubahlah secara pelan setelah mempraktekkan berbagai cara (be creative).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s