ANTARA OPTIMIS DAN BERHARAP

OptimisServices

Optimis aja..!

Selama ini sebagian besar orang mengartikan harapan dan optimis sebagai dua tema yang sama, atau bisa saling menggantikan. Sebagian lagi menganggap bahwa harapan adalah bagian dari optimis atau sebaliknya.

Jadilah orang yang optimis, jangan pesimis, apakah ini berarti orang yang optimis memiliki harapan? Atau optimis itu sendiri berarti harapan, atau sebaliknya, orang yang memiliki harapan berarti optimis?

Berbicara tentang optimis juga menyeret satu tema lain yang hampir selalu mengikuti, yaitu pesimis. Namun, ketika kita bicara tentang harapan, pesimis tidak selalu mengikuti, berbeda jika membicarakan topik optimis, terma pesimis hampir dipastikan menjadi oposisi penegas.
Harapan

Hope is the sum of the mental willpower and way power that you have for your goal (Snyder, 1994)

Tiga elemen mental dasar dalam harapan, yaitu (1) tujuan (goal), (2) keinginan kuat (willpower), (3) jalan keluar (way power).

Goal is any objects, experiences or outcomes that we imagine and desire in our minds (Snyder, 1994)

Memiliki harapan berarti memiliki goal untuk diraih, dicapai, didapatkan. Tujuan inilah sebagai komponen penting utama dalam sebuah harapan. Sesuatu yang ingin kita dapatkan seperti sebuah rumah di tepi pegunungan, atau prestasi di tempat aktivitas (kampus, kantor) seperti menyelesaikan pekerjaan dua hari lebih cepat dari deadline, atau menyelenggarakan pagelaran seni dengan sukses.

Tujuan tersebut memiliki pergerakan dinamis dalam rentang yang luas mulai dari idak mungkin hingga pasti. Misalnya, sebagai mahasiswa kita ingin mengubah citra negative tentang Indonesia menjadi positif di mata  dunia. Tujuan ini berada dalam rentang mental ‘tidak mungkin’ hingga ‘pasti bisa’. Langkah selanjutnya, bagaimana menyempitkan dan menajamkan rentang ini?

Yang kita butuhkan adalah memfokuskan perhatian diri terhadap satu tujuan utama, jadikan tujuan itu sebagai sesuatu yang penting dan bermakna besar  lalu bungkus dan patri kuat dalam harapan diri. Ketika kita telah mengukuhkan tujuan itu di tempat yang istimewa, elemen mental dasar lainlah yang selanjutnya mengambil alih. Kita melangkah ke willpower sebelum selanjutnya ke way power.

Willpower is the driving force in helpful thinking (Snyder, 1994)

Seberapa kuat keinginan diri kita untuk mewujudkan tujuan lah yang selanjutnya akan berbicara. Sebuah kotak mental dalam diri kita yang memuat keteguhan dan komitmen yang akan menolong kita untuk bergerak dengan arah efektif guna mewujudkan tujuan yang telah kita tentukan di awal.

Kita akan lebih mudah menggerakkan willpower  ini apabila dalam alam kognitif kita mampu membayangkan, memahami secara jelas dan menghadirkan tujuan penting tersebut. Willpower merepresentasikan kemampuan kognitif kita dalam menghasilkan inisiatif dan aktivitas yang berkesinambungan dalam meraih tujuan.

Pada kasus di atas, kita perlu merumuskan dengan jelas dan konkret apa yang dimaksud dengan mengubah citra Indonesia menjadi positif di dunia. Variabel lain yang menjadi pertimbangan penting di sini adalah kita sebagai mahasiswa. Sebagai mahasiswa, apa yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan/keinginan itu? Misalnya; memenangkan lomba penelitian mahasiswa psikologi tingkat internasional.

Pengalaman kesuksesan di masa lalu memang salah satu dasar kuat dalam mental dasar ini, namun hal ini bukanlah kartu mati untuk memulai.

Way power reflects the mental plans or road maps that guide hopeful thought (Snyder, 1994)

Tidak hanya keinginan mewujudkan tujuan/keinginan, namun bagaimana mencapainya juga tidak bisa ditinggalkan. Way power sebagai kemampuan mental untuk menemukan dan menciptakan jalan yang efektif.

Sekali lagi, kejelasan akan tujuan sangat membantu way power ini mengeluarkan berbagai rencana dan solusi aksinya. Terkait dengan aktivitas produksi solusi, maka fleksibilitas memegang peranan krusial. “If you can’t do it in one way, do it another way” menjadi motto yang memberi gambaran komprehensif.

Pada kasus tadi, setelah kita merumuskan tujuan jelas untuk memenangkan lomba penelitian mahasiswa psikologi tingkat internasional, maka langkah-langkah apa yang bisa ditempuh? Kemampuan kita untuk bermain di sini masih begitu luas, kita bisa membuat daftar seperti; melakukan penelitian sendiri, jika dirasa akan banyak menemui kesulitan, kita bisa mengembangkan dengan bekerjasama dengan lembaga peneliti nasional, bekerjasama dengan dosen, melakukan penelitian mandiri dengan teman satu kampus, melakukan pemilihan topic yang paling merepresentasikan Indonesia, mempelajari karakter lomba yang diadakan, dan lain sebagainya.

Kita telah membahas studi tentang harapan, mungkin mulai sedikit terbayang perbedaan dengan apa yang sering kita samakan (membuat bingung) yaitu optimis.

Optimis

The learned optimism approach suggests that optimist have a style of explaining events so they distance and circumscribe their failure (Snyder, 1994)

Ternyata optimis merupakan pola pikir tentang suatu kejadian yang menimpa seseorang, khususnya kejadian buruk. Ada tiga dimensi utama dalam optimis;

(1)  Menempatkan kesalahan sebagai factor eksternal dari diri

(2)  Mengevaluasi kesalahan dalam sudut pandang akan terus berlanjut atau tidak

(3)  Memandang kesalahan hanya pada satu area dengan penjelasan spesifik daripada melihatnya secara menyeluruh seperti, adanya kemungkinan faktor yang terlihat tidak terkait namun bisa menjadi penyebab.

Ya, aku memang perenang yang buruk, tapi kalian harus lihat kalau aku main basket deh” Sang optimis memberikan alasan eksternal untuk kejadian buruk sebagai penjelasannya, perbedaannya dengan sang pesimis adalah, pada sisi ekstrem yang berlawanan. Maka jika optimis melihat kejadian buruk sebagai kesalahan eksternal dari diri, pesimis melihatnya dari faktor internal (menyalahkan diri sendiri, misalnya), dan menarik atribusi kaku dan global.

Harapan, Optimis dan Pesimis

Pada kasus mahasiswa yang ingin mengubah citra negatif Indonesia menjadi positif di mata dunia. Individu yang memiliki harapan akan mengandalkan willpower, way power untuk mencapai tujuan (citra positif).  Sementara individu optimis akan memandang citra negatif Indonesia sebagai akibat dari kondisi politik dunia yang sedang memanas karena perang Irak. Pada sisi lain lagi, orang pesimis akan berujar, “Yah, memang dari dulu, sampai kapan pun Indonesia selalu kalah dari negara lain”

Harapan adalah proses yang menghubungkan seseorang pada kesuksesan, hal ini yang membuat kegagalan menjadi samar atau tidak terlalu menajam, karena proses mental yang terjadi adalah membentuk jalinan untuk mencapai sesuatu, yaitu keberhasilan. Sementara optimis masih membawa tema kejadian buruk/ kegagalan.

Tidak jarang ada yang bercanda dengan mengatakan, “Optimis sih optimis, tapi realistis dong” Artinya, optimis belum merupakan satu proses jelas dalam memperbaiki kondisi negatif yang terjadi (misalnya) dan sudah pasti mewujudkan hasil nyata.  Bagaimana pun juga, optimisme tanpa harapan, tidak akan jadi apa-apa; dan harapan tanpa gerak dan usaha, juga tidak mewujudkan apa-apa.  Semua kembali pada gerak dan usaha

Literature:

C.R. Snyder (1994) The Psychology of Hope: You Can Get There from Here. New York; The Free Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s