Archive

Posts Tagged ‘tasawuf’

Pendidikan Agama Islam ׀ Islam dan Tasawuf

1. Pengertian dan tujuan tasawuf

Tasawuf (mystic/Sufism) barasal dari kata suf yakni wol kasar yang dipakai oleh seorang muslim yang berusaha dengan berbagai upaya yang telah ditentukan untuk mendekatkan diri pada Allah (orang yang melakukan disebut sufi, ilmu yang menjelaskan dinamakan Ilmu Tasawuf). Ilmu tasawuf adalah ilmu yang memperjelaskan tata cara pengembangan rohani manusia dalam rangka usaha mencari dan mendekatkan diri pada Allah.

Bagi kaum sufi yang mementingkan syariat dan hakikat sekaligus, sholat misalnya, tidaklah hanya sekedar pengucapan sejumlah kata dalam gerakan tertentu, tetapi adalah dialog spiritual antara manusia dengan tuhan dan dilakukan dengan sepenuh hati, dengan mencurahkan seluruh perhatian pada makna-makna rohaniah yang terkandung di dalamnya.

Seorang Sufi yang bepergian dalam menempuh perjalanan lambat dan teratur melalui tarikan tertentu harus melewati tujuh tingkatan, menuju kesatu tujuan yakni pertemuan dengan kenyataan Allah sendiri, jalan atau tariqat, kemudian menjadi organisasi sufi sendiri, yang dipimpin oleh seorang guru yang disebut syeikh yang berfungsi sebagai penunjik jalan disebut Salik. Contoh  beberapa tariqat adalah Qadiriah, Rifa’iyah, Sammaniyah, Syattariyah, dan Naqsayabandiyah.

Tujuan tasawuf

Pada dasarnya tujuan  Tasawuf adalah menyucikan jiwa, hati dan menggunakan perasaan, pikiran dan semua fakultas yang dimiliki sang salik untuk tetap berada pada jalan Sang Kekasih, Tuhan Semesta Alam, untuk hidup berlandaskan rohani.

Allah menyuruh manusia mengikuti sunah nabi Muhammad SAW seperti diungkapkan oleh Siti Aisyah, akhlak nabi Muhammad adalah, (seluruh isi Al-Qur’an). Sikap terhadap sesama manusia dalam kehidupan sosial menurut nilai dan norma islam adalah, misalnya :

  • Sikap mau dan mampu menunaikan kewajiban dan menerima hak
  • Mau dan mampu menunaikan kewajiban dan menerima hak
  • Mau dan mampu mengendalikan diri
  • Selalu berusaha menegakan keadilan dan kebenaran baik bagi diri sendiri maupun bagi kepentingan masyarakat

2. Pandangan Umat Islam terhadap Tasawuf

Pendapat mengatakan tasawuf berasal dari kata suf, artinya bulu domba kasar. Disebut demikian karena orang-orang yang memakai pakaian itu, disebut orang-orang sufi atau mutasawwif, hidup dalam kemiskinan dan kesederhanaan. Mereka memakai pakaian yang terbuat dari bulu binatang sebagai lambang kesederhanaan dan kemiskinan.

Menurut At Taftazani, Tsawuf mempunyai 5 (lima) ciri :

  1. Mempunyai nilai-nilai moral,
  2. Pemenuhan fana dalam realistik  mutlak,
  3. Pengetahuan intuitif  (berdasarkan bisikan hati) langsung,
  4. Timbulnya rasa kebahagiaan sebagai karunia Allah dalam diri Sufi karena tersiptanya maqamat (beberapa tingkatan perhentian) dalam perjalanan sufi menuju (mendekati) Tuhan,
  5. Penggunaan  lambang-lambang pengungkapan (perasaan) yang biasanya mengandung pengertianharfiah dan tersirat (Ensklopedia Islam, 1933:73-75).

Ketika salah satu zahid besar (orang yang tidak tertarik pada harta dan kesenangan keduniawian), Rabi’ah al-Adawiyah muncul menjalankan tasawuf, bukan karena zuhud (takut) kepada neraka dan bukan pula karena mengharapkan surga, melainkan karena rasa cinta kepada Allah yang dikembangkan  menguasai segenap hati. Yang diharapkannya adalah cinta kepada Allah dibalas dengan cinta pula.

Pada perkembangan selanjutnya Tasawuf  dipecah menjadi du aliran, pertama Tasawuf berdasarkan Al Quran dan Hadits. Kedua, Tasawuf  Falsafi, disebut demikian karena dipandang teori-teori yang dikemukakannya banyak mengandung unsur-unsur filsafat.

3. Stasiun-stasiun dalam Tasawuf untuk Mengakrabkan Diri dengan Allah

Ada 4 tahap yang harus dilalui hamba yang menekuni tasawuf untuk mencapai suatu tujuan (As-Sa’adah) :

1) Syari’at

Syariat adalah hukum-hukum yang telah diturunkan oleh Allah SWT  kepada Rasulullah SAW yang telah ditetapkan oleh ulama melalui sumber Nash Al Quran maupun As Sunah atau dengan cara Istimbat.

2) Tarekat

Tarekat adalah  pengamalan syariat, melaksanakan beban ibadah dengan tekun dan menjauhkan diri dari sikap mempermudah ibadah, yang sebenarnya tidak boleh dipermudah (diremehkan). Tingkatan maqam  tarekat menurut Abu Nashr As Sarraj adalah :

  1. Tingkatan taubah
  2. Tingkatan wara’
  3. Tingkatan Az-Zuhd
  4. Tingkatan Al-Faqru
  5. Tingkatan Al-Shabru
  6. Tingkatan At-Tawakkal
  7. Tingkatan Ar-Ridha

3) Hakikat

Hakikat adalah suasana kejiwaan seorang salik (sufi) ketika ia mencapai suatu tujuan sehingga ia dapat menyaksikan tanda-tanda dengan mata hatinya.

Seorang sufi setelah menempuh tarekat dengan melakukan suluk yakin terhadap yang dialami, 3 macam tingkatan keyakinan tersebut adalah :

  1. ‘ainul yaqin’ (keyakinan melalui pengamatan indera)
  2. ‘ilmul yaqin’ (keyakinan melalui analisis pemikiran)
  3. ‘Haqqul yaqin’ (keyakinan melalui hati nurani)

4) Ma’rifat

Ma’rifat adalah hadirnya kebenaran Allah pada seorang sufi dalam keadaan hatinya selalu berhubungan dengan Nur Ilahi. Ma’rifat membuat ketenangan dalam hati, sebagaimana ilmu pengetahuan membuat ketenangan dalam akal pikiran.

Tanda-tanda sufi yang mencapai Ma’rifat :

  1. Selalu memancar cahaya ma’rifat dalam segala sikap dan perilakunya.
  2. Tidak menjadikan keputudan pada suatu yang berdasarkan fatwa yang bersifat nyata.
  3. Tidak menginginkan nikmat Allah yang bayak untuk dirinya.

Download

Download bahan mata kuliah Pendidikan Agama Islam Bab Islam dan Tasawuf.

Sumber Referensi :

  • E-learning Gunadarma
  • Bahan Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di STIE Bank BPD Jateng yang disampaikan Bapak Nurwan.
  • Tugas Form.1 EKO SUDARMAKIYANTO (NIM.1M101535) Bab Islam dan Tasawuf.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 278 other followers